Pengetahuan ini patut dipelajari dan diuji untuk melihat kemungkinan penerapannya pada bangunan masa kini, tanpa mengabaikan kebutuhan akan keselamatan.
Namun, Lamban Tuha tidak hanya menyimpan pengetahuan tentang konstruksi. Bagi keluarga pemiliknya, ketangguhan rumah juga berkaitan dengan kepercayaan yang diwariskan turun-temurun.
Mereka meyakini adanya inguan, harimau gaib yang menjaga rumah agar tetap tegak (Fransiska & Setiawan, 2006).
Kepercayaan tersebut tercermin dalam pembagian ruang rumah. Di bawah atap Lamban Tuha terdapat Pagu Hantu, ruang berlantai kayu sekitar tiga meter di atas lantai utama yang dicapai melalui tangga.
Keluarga menyimpan pusaka, seperti keris, pedang, dan tombak, serta benda-benda yang dikeramatkan, termasuk tanduk kerbau, jimat, kopiah kerajaan, pakaian adat, dan payung kebesaran.
Pada kesempatan tertentu, makanan untuk pesta juga diletakkan di ruang itu (Fransiska & Setiawan, 2006). Rumah ini menjadi tempat tinggal sekaligus ruang untuk merawat pusaka dan menghormati adat serta leluhur.
Hubungan masyarakat Ranau dengan alam juga tercermin dalam kisah Gunung Seminung dan Danau Ranau.
Warga di kaki gunung percaya bahwa sebuah pemandian air panas di tepi danau merupakan tempat Putri Raja Seminung mandi.
Dalam kisah itu, sang putri turun dari gunung dengan menunggangi kucing besar berbelang kuning, berukuran dua hingga tiga kali harimau.
Warga yang berkebun di sekitarnya menuturkan bahwa mereka kerap mencium aroma wangi ketika sang putri turun.
Kisah tersebut berkaitan dengan penghormatan warga dahulu terhadap kucing-kucing liar di sekitar danau (Mongabay, 2025b).
Kepercayaan terhadap penghuni gaib juga menyertai pantangan dalam memperlakukan alam.
Hutan Seminung dipercaya memiliki penunggu, sehingga menebang pohon atau berburu di sana diyakini dapat mendatangkan malapetaka.
Di danau, warga mengenal larangan berbuat maksiat dan merusak lingkungan, yang dikaitkan dengan ancaman penyakit melalui air serta angin.









