Lamban Tuha: Rumah yang Menari Bersama Gempa

Penulis: Zaki Zain | Editor: Syaifudin
Lamban Tuba di Desa Surabaya, foto Aris Siswanto

Menurut laporan Mongabay, warga Ranau dikenal enggan membuka hutan Seminung dan memilih berkebun di kaki gunung (Mongabay, 2025a).

Sebagian besar masyarakat Ranau beragama Islam, sementara kepercayaan yang diwariskan tersebut tetap hadir dalam kehidupan mereka.

Kisah, adat, dan pantangan memperlihatkan cara masyarakat memaknai hubungan dengan lingkungan.

Konstruksi rumah menunjukkan penyesuaian terhadap ancaman gempa, sedangkan pantangan dan kepercayaan menjadi bagian dari hubungan warga dengan hutan, gunung, dan danau.

Warisan tersebut kini menghadapi tantangan. Lamban Tuha semakin langka.

Laporan Mongabay menyebut kisah Putri Raja Seminung mulai dilupakan, kucing liar semakin jarang terlihat, dan hutan di lereng gunung mulai dirambah untuk perkebunan (Mongabay, 2025b).

Di jalur patahan Sumatera, rumah tradisional juga terus berkurang karena kayu bermutu semakin mahal dan rumah tembok dianggap sebagai lambang kemajuan.

Sementara itu, penerapan standar bangunan tahan gempa belum meluas di desa-desa (Kompas).

Karena itu, pendokumentasian Lamban Tuha yang masih tersisa menjadi penting.

Teknik membangun, pengalaman warga menghadapi gempa, serta peran rumah dalam kehidupan sosial, keluarga, dan adat perlu dicatat bersama pantangan dan kepercayaan yang menyertainya.

Dokumentasi tersebut dapat memperlihatkan hubungan antara pengetahuan konstruksi dan cara masyarakat memperlakukan lingkungannya.

Pelestarian tidak cukup dilakukan dengan mencatat keberadaan rumah. Pengetahuan tentang cara membangun, pemilihan bahan, pengalaman menghadapi gempa, dan nilai budaya yang menyertainya perlu diwariskan agar tetap dipahami generasi berikutnya.

Prinsip konstruksi Lamban Tuha juga dapat dipelajari dan diuji untuk melihat kemungkinan penerapannya pada bangunan masa kini.

Lamban Tuha mengingatkan bahwa kemajuan tidak harus berarti meninggalkan pengetahuan masa lalu. Di kawasan yang berulang kali diguncang gempa, pengalaman membangun rumah yang mampu menyesuaikan diri dengan guncangan merupakan pengetahuan yang layak dipelajari.

Menjaga Lamban Tuha berarti merawat bangunan sekaligus pengetahuan konstruksi, ingatan tentang bencana, dan warisan budaya masyarakat Ranau agar tidak hilang bersama berkurangnya rumah yang menyimpannya. (*)

 

Bagikan Tulisan Ini