Sesar sepanjang sekitar 1.900 kilometer ini membentang dari Aceh hingga Teluk Semangko dan melintasi kawasan Ranau serta Liwa di bagian selatan.
Gunung Seminung dan mata air panas di kakinya melengkapi bentang alam vulkanik kawasan tersebut.
Sejarah gempa memperlihatkan besarnya ancaman di wilayah ini. Pada Minggu, 25 Juni 1933, pukul 04.54, gempa berkekuatan sekitar 7,5–7,7 mengguncang wilayah antara Danau Ranau dan Suoh.
Patahan dilaporkan mengalami robekan sepanjang sedikitnya 130 kilometer. Laporan yang dirujuk menyebut seluruh bangunan di Liwa dan Banding Agung rata dengan tanah, longsor terjadi di banyak lereng, dan kenaikan air danau merendam sawah.
Sedikitnya 788 orang tewas, sementara jumlah korban sebenarnya diduga lebih besar (BMKG, 2019; Martin dkk., 2022).
Kawasan Liwa kembali diguncang gempa pada 16 Februari 1994, selepas tengah malam. Gempa berkekuatan Mw 6,8 itu menewaskan lebih dari seratus orang (BMKG, 2019; Widiwijayanti dkk., 1996).
Di Sebarus, Lampung Barat, tak jauh dari Danau Ranau, Kompas mencatat rumah adat Saibatin tetap berdiri setelah melewati gempa 1933 dan 1994, sementara banyak rumah tembok yang lebih baru roboh.
Seorang warga mengenang gempa 1994: “Semua rumah tembok roboh. Kalau rumah panggung dari kayu paling parah terduduk.”
Menurut penuturan tersebut, rumah kayu yang tiangnya patah dapat didongkrak dan dikembalikan ke tempatnya.
Jauh sebelumnya, pada 1783, William Marsden telah mencatat penggunaan kayu dalam rumah masyarakat Sumatera sebagai penyesuaian terhadap gempa yang sering terjadi.
Gempa berikutnya menunjukkan bahwa ancaman tersebut terus ada. Pada 9 September 2008, gempa berkekuatan 5,6 merusak ratusan rumah di Jarai dan Muara Payang, Lahat.
Kajian kerusakannya menunjukkan bahwa denah dan fondasi berperan penting dalam menentukan kerentanan rumah tradisional (Unsri).
Pada 31 Maret 2014, gempa berkekuatan 5,4 yang berpusat di OKU Selatan merusak rumah dan tempat ibadah di Warkuk Ranau Selatan (Katalog BMKG).
Riwayat tersebut memperlihatkan pentingnya bangunan yang mampu menyesuaikan diri dengan guncangan. Lamban Tuha menjadi contoh bagaimana pengetahuan konstruksi tradisional berkembang dalam kehidupan masyarakat yang tinggal di kawasan rawan gempa.









