Kolom dinding yang disebut sako terpisah dari kolom kaki rumah dan ditopang tiang ari di bawahnya (Fransiska & Setiawan, 2006).
Dalam istilah teknik modern, Siswanto menjelaskan kalindang sebagai sistem isolasi dasar tradisional.
Susunan batu dan balok kayu memungkinkan rumah bergerak ketika tanah berguncang, sehingga gerakan tidak diteruskan secara kaku ke seluruh bangunan.
Balok-balok silindris membantu meredam energi guncangan. Lapisan ijuk di antara umpak batu dan kolom, serta di antara balok kalindang, turut mendukung cara kerja tersebut.
Atap yang ringan dan penggunaan kayu tenam yang besar serta berat di bagian bawah membantu menjaga kestabilan rumah.
Menurut Siswanto, sistem bongkar pasang juga memungkinkan Lamban Tuha dibongkar dan didirikan kembali di tempat lain.
Semua Lamban Tuha menggunakan kalindang, meskipun tidak semua rumah gudang memakai konstruksi tersebut.
Prinsip kalindang juga berpeluang diadaptasi menggunakan bahan lain, seperti batang kelapa, beton bulat, pipa baja, dan ban bekas.
Namun, penerapannya pada rumah kayu maupun rumah modern masih memerlukan pengembangan dan pengujian serta kerja sama akademisi, arsitek, dan tukang kayu tradisional.
Konstruksi yang memungkinkan rumah ikut bergoyang juga ditemukan di daerah lain di Sumatera Selatan.
Bentuk fondasinya menyesuaikan kondisi tempat bangunan berdiri. Di dataran rendah dan lahan basah, seperti tepian Musi, tiang rumah panggung ditanam ke dalam tanah.
Sementara di kawasan jalur patahan, seperti Lahat, Dempo, dan Ranau, tiang diletakkan di atas batu agar bangunan lebih lentur ketika diguncang gempa (Kompas).
Pilihan konstruksi tersebut berkaitan dengan kondisi geografis Ranau.
Danau Ranau menempati kaldera, cekungan besar hasil letusan gunung api purba sekitar 33 ribu tahun lalu, yang bentuknya kemudian dipengaruhi pergerakan Sesar Sumatera (Natawidjaja dkk., 2017; Kementerian ESDM).









