Namun, menyelesaikan persoalan ini tidak cukup dengan mengatakan bahwa remaja tersebut nakal, tidak disiplin, atau kurang pendidikan moral.
Kita perlu melihat akar masalahnya secara lebih jernih.
Masa remaja merupakan fase pencarian identitas. Pada usia tersebut, kebutuhan untuk diterima kelompok sangat kuat. Remaja ingin memiliki teman, mendapatkan pengakuan, menunjukkan keberanian, dan merasa dirinya berarti.
Jika kebutuhan tersebut tidak mendapatkan ruang positif, kelompok sebaya dapat mengambil alih fungsi tersebut.
Di sinilah geng motor bisa menjadi tempat yang menawarkan identitas instan. Solidaritas kelompok memberikan rasa memiliki. Keberanian memberikan pengakuan. Bahkan tindakan agresif dapat dianggap sebagai simbol loyalitas.
Persoalan menjadi semakin rumit ketika media sosial ikut memberikan panggung.
Aksi konvoi, tawuran, penggunaan senjata, atau perilaku agresif dapat direkam dan disebarluaskan. Sesuatu yang semestinya memalukan justru berpotensi dipersepsikan sebagai keberanian dan eksistensi.
KPAI sebelumnya juga pernah mengingatkan bahwa fenomena geng dapat berkaitan dengan kebutuhan anak untuk mendapatkan apresiasi dan ruang menyalurkan aspirasi. Karena itu, komunikasi hangat antara orang tua dan anak menjadi bagian penting dalam pencegahan.
Artinya, persoalan geng motor tidak dapat diselesaikan hanya dengan patroli polisi.
Polisi memang harus bertindak tegas terhadap tindak pidana. Masyarakat berhak mendapatkan rasa aman. Pelaku kekerasan harus mempertanggungjawabkan perbuatannya sesuai hukum.
Tetapi pendidikan dan pencegahan harus berjalan sebelum seorang anak memegang senjata.
Kita perlu bertanya: apakah anak-anak kita sudah memiliki cukup ruang untuk berprestasi, berkarya, berorganisasi, berolahraga, berekspresi, dan mendapatkan penghargaan?
Sebab energi remaja sebenarnya sangat besar. Persoalannya adalah ke mana energi tersebut diarahkan.
Karena itu, solusi pertama harus dimulai dari keluarga.
Orang tua perlu mengenal dunia anaknya, bukan hanya mengetahui nilai rapornya. Kenali teman-temannya, pahami aktivitasnya, dengarkan ceritanya, dan bangun komunikasi yang membuat anak nyaman untuk berbicara.
Anak yang merasa didengar akan lebih mudah diarahkan.
Kedua, sekolah harus menjadi ruang yang membuat anak merasa memiliki masa depan. Pendidikan karakter tidak cukup dalam bentuk nasihat di ruang kelas.
Sekolah perlu menyediakan ruang aktualisasi melalui olahraga, seni, organisasi, literasi, teknologi, kewirausahaan, kegiatan sosial, dan berbagai aktivitas produktif lainnya.
Ketiga, pemerintah daerah bersama masyarakat perlu menyediakan ruang publik yang aman dan kreatif bagi generasi muda.
Jangan sampai anak memiliki banyak waktu luang, tetapi sedikit pilihan kegiatan positif.
Keempat, kepolisian perlu memperkuat pendekatan preventif tanpa mengurangi ketegasan penegakan hukum. Edukasi keselamatan berlalu lintas, bahaya senjata tajam, konsekuensi hukum, serta pembinaan di sekolah dan komunitas harus menjadi bagian dari strategi pencegahan.
Kelima, dunia digital juga harus menjadi bagian dari solusi. Konten kekerasan jangan sampai memperoleh panggung lebih besar daripada prestasi anak muda.
Kita perlu membangun budaya baru: bahwa yang keren bukanlah siapa yang paling berani melukai, tetapi siapa yang paling mampu berkarya.
Yang hebat bukan yang ditakuti karena membawa senjata, tetapi yang dihormati karena prestasinya.
Yang memiliki solidaritas bukan mereka yang bersama-sama melakukan kekerasan, melainkan mereka yang saling menguatkan untuk mencapai masa depan.









