oleh Luhur Susilo – Matra Satupena Blora
KETIKA panggung belum mengenal lampu sorot, seniman sudah lebih dahulu mengenal jalan. Mereka membawa suara, gerak, gamelan sederhana, dan harapan pulang membawa penghasilan. Di desa-desa Jawa, seni bukan hanya tontonan, melainkan cara hidup: hadir ketika panen dirayakan, hajatan digelar, dan ruang sosial dibuka.
Di antara tradisi itu terdapat sindir mbarang atau ledhek mbarang, kesenian yang bergerak dari rumah ke rumah atau dari satu keramaian ke keramaian lain. Penelitian terbaru tentang Ledhek Mbarang di Dologan, Japah, Blora, menunjukkan praktik ini masih bertahan di tengah modernisasi, dengan unsur tari, musik, tradisi lokal, dan pola pertunjukan keliling seperti pengamen.
Karena itu, mbarang tidak tepat dibaca semata-mata sebagai “mengamen”. Di dalamnya terdapat strategi ekonomi sekaligus strategi kebudayaan. Seniman menawarkan keterampilan artistik secara langsung kepada publik, sementara publik menjadi bagian dari pertunjukan melalui interaksi, permintaan, dan pemberian saweran.
Secara historis, tayub dan bentuk-bentuk kesenian ledhek memiliki jejak yang berkelindan dengan masyarakat agraris. Di sejumlah daerah, tayub berkaitan dengan ritual kesuburan, sedekah desa, atau ungkapan syukur. Di Klopoduwur, Blora, misalnya, tayub masih dikaji sebagai bagian dari ritual masyarakat petani.
Dalam tradisi lisan lokal, perkembangan awal sindir juga kerap dikaitkan dengan lingkungan Jipang Panolan dan masa Arya Penangsang. Klaim ini sebaiknya ditempatkan sebagai ingatan budaya masyarakat, bukan sebagai fakta sejarah tunggal yang telah terverifikasi. Kehati-hatian penting agar sejarah lisan tidak dipaksa menjadi kronik.
Memasuki masa ketika kehidupan pedesaan sangat bergantung pada pertanian, mobilitas menjadi modal penting bagi seniman. Ketika tidak ada panggung tetap, panggunglah yang didatangi. Ketika penonton tidak membeli tiket, penghasilan diperoleh melalui saweran atau partisipasi langsung dalam pertunjukan.









