Oleh Gunawan Trihantoro,
Ketua Umum Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Cilacap 2010-2014
Saya bersama sahabat lama datang menjenguk seorang tokoh Muhammadiyah di Rumah Sakit Pertamina Cilacap (RSPC), Jawa Tengah, beberapa waktu lalu.
Tokoh Muhammadiyah yang kami jenguk di RSPC ini tak lain adalah Haji Mauludin, ayah dari sahabat kami (Chabibul Barnabas).
Belakangan baru diketahui, Haji Mauludin dirawat intensif di rumah sakit untuk yang kedua kalinya.
Sebelumnya, pria gaek berusia 70 tahun itu sudah menjalani perawatan di rumah sakit yang sama selama hampir sepekan.
“Kemarin sudah pulang, ternyata saat ini dirawat lagi,” ungkap sekuriti rumah sakit yang baru tahu keberadaan Haji Mauludin kembali dirawat secara intensif.
Anak Haji Mauludin juga menginformasikan, “Bapak saya masuk rumah sakit lagi,” katanya melalui pesan WhatsApp, singkat.
Ketika kami memasuki kamar perawatan rumah sakit, Haji Mauludin tampak terbaring lemas di atas ranjang bangsal.
Badannya terbujur kaku seperti kesulitan untuk meluruskan kaki, tangan, dan organ tubuh lainnya.
Saat ditanya para penjenguk, ia hanya mengangkat telapak tangannya untuk bersalaman sebagai tanda penghormatan kepada para tamunya.
Istrinya, Ibu Hajjah Mauludin dengan penuh kesabaran mendampinginya siang dan malam, walaupun baru sembuh dari sakit.
Ia menyambut hangat kehadiran kami di ruang perawatan rumah sakit itu.
Di tengah suasana yang tenang, kami mengabarkan kondisi kesehatan Haji Mauludin kepada Mariman Darto, Staf Ahli Menteri Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah yang kini menjabat sebagai Deputi di Badan Gizi Nasional.
Tak lama kemudian, Mariman menelpon dan berkomunikasi langsung dengan Ibu Hajjah Mauludin untuk saling bertukar kabar.
Percakapan berlangsung hangat, penuh perhatian, dan ada doa bersama yang dipanjatkan: semoga Allah Swt segera mengangkat penyakit yang sedang diderita Haji Mauludin.
Kami mendengar jelas komunikasi antara Ibu Hajjah Mauludin dan Mariman.
Tapi Haji Mauludin tetap terbaring lemah di atas ranjang bangsal, tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Namun demikian, pada saat perbincangan kami menyebutkan sahabat lama Haji Mauludin di organisasi Muhammadiyah bernama Mukhlas, tiba-tiba beliau membuka mata dan berkata lirih, “Pak Mukhlas itu teman seperjuangan saya”.
Kalimat sederhana ini menjadi pembuka cerita Haji Mauludin dari tempat pembaringannya di bangsal.
Ia mulai menarasikan sebuah perjalanan panjang yang dikenang dengan penuh semangat selama berjuang dan berdakwah.
Beliau bercerita tentang perjuangan bersama para sahabat dalam membesarkan Muhammadiyah di Kabupaten Cilacap.
Ungkapan cerita ini secara perlahan seolah melupakan rasa sakit yang sedang dideritanya.
Kami melihat dengan mata kepala, bahwa tubuh memang bisa melemah tetapi semangat perjuangan tidak pernah kehilangan nyalanya.
Bagi masyarakat Cilacap, Haji Mauludin bukanlah nama asing, terutama di lingkungan Muhammadiyah Kabupaten Cilacap.
Beliau termasuk sosok yang mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk membangun amal usaha, menguatkan dakwah, serta menyiapkan kader agar Muhammadiyah terus bertumbuh melintasi zaman.
Salah satu ikhtiar yang pernah beliau rintis adalah mendirikan Perpustakaan Muhammadiyah sebagai ruang belajar dan pusat literasi bagi warga persyarikatan.
Ia meyakini, dakwah tidak cukup hanya dilakukan dari mimbar, tetapi juga melalui budaya membaca, belajar, dan memperluas wawasan.
Komitmennya terhadap pendidikan juga diwujudkan dengan mendirikan sebuah yayasan yang menaungi anak-anak yatim piatu.
Bukan sekadar memberikan santunan, ia juga berupaya memastikan mereka memperoleh hak untuk mengenyam pendidikan hingga dapat bersekolah di berbagai satuan pendidikan sesuai jenjangnya.
Baginya, anak yatim tidak cukup dikasihani tetapi harus dipersiapkan menjadi generasi yang mandiri, berilmu, dan bermartabat.
Pandangan itu menunjukkan bahwa kepedulian sosial yang beliau bangun selalu berorientasi pada pemberdayaan, bukan sekadar bantuan sesaat.
Di bidang pemberdayaan ekonomi, Haji Mauludin juga dikenal aktif mengembangkan pertanian organik.
Gerakan ini tidak hanya ditujukan bagi kader Muhammadiyah, tetapi juga terbuka bagi masyarakat luas tanpa membedakan latar belakang organisasi.
Ia memahami bahwa dakwah tidak selalu berbentuk ceramah. Lebih dari itu, mengajarkan masyarakat bertani secara sehat dan menjaga kelestarian alam.
Bahkan, tanpa terkecuali meningkatkan kesejahteraan keluarga merupakan bagian dari dakwah yang membumi.
Selain itu, ia dikenal istiqamah mengisi berbagai kajian keislaman, serta berbagi pengetahuan umum di berbagai forum.
Menurutnya, ilmu akan kehilangan makna apabila hanya disimpan untuk diri sendiri.
Karena itu, ia memilih terus berbagi, membimbing, dan mendampingi masyarakat selama masih diberi kesempatan.
Masih banyak jejak pengabdian lain yang telah beliau torehkan di Muhammadiyah Kabupaten Cilacap.
Sebagian mungkin tidak pernah tercatat dalam laporan organisasi, tetapi hidup dalam ingatan orang-orang yang pernah merasakan manfaat dari ketulusan perjuangannya.
Maka tidak mengherankan jika di tengah kondisi fisiknya yang sedang menurun atau sakit, pikiran beliau tetap tertuju pada satu hal, yakni kaderisasi.
Haji Mauludin tidak berbicara tentang dirinya sendiri. Ia berbicara tentang masa depan Muhammadiyah, tentang pentingnya melahirkan kader yang berilmu, berakhlak, berintegritas, dan siap meneruskan estafet perjuangan.
Kami merasa, inilah pelajaran paling berharga dari kunjungan singkat di rumah sakit tersebut.
Rupanya seorang pejuang sejati tidak pernah berhenti memikirkan umat, walaupun tubuhnya melemah.
Justru dari atas bangsal perawatan itu Haji Mauludin mengingatkan kami bahwa organisasi yang besar tidak dibangun oleh satu generasi.
Ia akan tetap berdiri kokoh apabila setiap generasi dengan tulus menyiapkan generasi berikutnya.
Warisan terbesar seorang pejuang bukanlah jabatan yang pernah disandang atau penghargaan yang pernah diterima.
Warisan terbesar itu tak lain adalah nilai-nilai, keteladanan, dan kader-kader yang terus melanjutkan perjuangan dengan hati yang ikhlas.
Di awal maupun di akhir, kami terus memanjatkan doa-doa terbaik kepada Allah Swt.
Berharap Allah Swt senantiasa melimpahkan kesehatan, kekuatan, dan keberkahan usia kepada Haji Mauludin.
Semoga beliau segera pulih, kembali membersamai umat, dan terus menjadi mata air inspirasi bagi Muhammadiyah, bagi masyarakat Cilacap, serta bagi siapa pun yang meyakini bahwa pengabdian adalah cara terbaik meninggalkan jejak kehidupan.
Lekas sembuh dan sehat-sehat kembali Pak Haji Mauludin, aamiin ya rabbal ’alamin.









