BUKITTINGGI, KYAIMENTERI — Mantan pimpinan Jamaah Islamiyah (JI) memaparkan perubahan pemahaman keagamaan yang mendasari keputusan mereka membubarkan organisasi dan kembali kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Mereka menyampaikan pengalaman tersebut dalam kegiatan Transformasi Ideologi Jamaah Islamiyah yang Densus 88 Antiteror Polri selenggarakan di Grand Rocky Hotel Bukittinggi, Selasa (13/10/2026).
Kegiatan ini mempertemukan mantan anggota JI dengan akademisi dan agamawan. Sebanyak 49 mantan anggota JI hadir langsung, sementara lima orang lainnya mengikuti kegiatan melalui Zoom.
Empat mantan pimpinan JI menjadi narasumber, yakni Para Wijayanto, Choirul Anam, Suhardi alias Abu Hasan, dan Wiji Joko.
Para Wijayanto pernah memimpin JI pada 2008–2019. Organisasi tersebut menyatakan pembubaran diri pada 2024.
Dalam pemaparannya, Ia menjelaskan bahwa perubahan sikap mereka berangkat dari kesadaran untuk mengoreksi pemahaman keagamaan yang keliru. Mereka meninjau kembali pandangan tentang jihad serta hubungan umat Islam dengan negara dan sesama warga.
Mereka mengakui bahwa pemahaman jihad yang sebelumnya mereka pegang tidak sesuai dengan konsep jihad dalam Al-Qur’an. Peninjauan tersebut turut mengubah cara mereka memandang Indonesia dan masyarakatnya.
Dalam pandangan yang mereka paparkan, Indonesia merupakan darul Islam, dengan umat Islam sebagai mayoritas penduduk. Mereka juga menegaskan bahwa warga non-Muslim di Indonesia bukan musuh yang harus diperangi, melainkan saudara sebangsa dan setanah air.
Untuk menjelaskan hubungan tersebut, mereka mengangkat persahabatan tokoh bangsa, seperti A.A. Maramis dengan Agus Salim, Soekarno, dan Mohammad Hatta. Perbedaan agama tidak menghalangi para tokoh itu membangun kebersamaan dalam kehidupan berbangsa.
Para narasumber juga menekankan bahwa mengubah pendapat setelah memperoleh pemahaman yang lebih tepat bukanlah aib. Mereka merujuk pada qaul qadim dan qaul jadid Imam Syafi’i sebagai contoh perubahan pandangan dalam tradisi keilmuan Islam.
Kegiatan ini turut menghadirkan agamawan dan akademisi Buya Anggi Wahyuari,Guru Besar Ilmu Studi Agama-Agama Andri Ashadi, serta Dekan Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama UIN Imam Bonjol Padang, Sefriyono.
Buya Anggi menekankan pentingnya keseimbangan antara ilmu agama dan penghayatan dalam beragama. Menurutnya, semangat keagamaan yang melampaui pengetahuan dapat mendorong seseorang pada sikap radikal.
Sebaliknya, ia menilai pengetahuan yang tidak disertai penghayatan berisiko membuat seseorang sekadar mengakali ajaran agama. Karena itu, ilmu dan penghayatan perlu tumbuh bersama agar kehidupan beragama tidak timpang.
Forum ini juga menyoroti perlunya pembinaan berkelanjutan setelah pembubaran JI. Pembinaan secara berkala setiap tahun menjadi salah satu kebutuhan agar perubahan pemahaman terus menguat dan tercermin dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui kegiatan tersebut, para mantan anggota JI diharapkan tetap istiqamah dalam komitmen kebangsaan serta berkontribusi bagi Indonesia melalui berbagai bidang kehidupan. Forum ini juga menyampaikan harapan agar kelompok lain yang masih memegang paham radikal mengikuti langkah untuk kembali kepada NKRI.









