Oleh: Zaki Faddad Syarif Zain
Di tepi Danau Ranau, sebuah Lamban Tuha di Desa Surabaya, Kecamatan Banding Agung, Kabupaten OKU Selatan, Sumatera Selatan, menyimpan pengetahuan lokal tentang bangunan tahan gempa.
Rumah milik Dalom Tamzin H. Zainal itu diperkirakan berusia dua abad. Meski telah berkali-kali diguncang gempa dan beberapa kali dipindahkan, rumah panggung kayu tersebut masih berdiri kokoh.
Di bawah lantainya, balok-balok kayu bertumpu pada umpak batu. Konstruksi ini menyimpan pengetahuan masyarakat Ranau tentang cara membangun rumah di kawasan rawan gempa (Fransiska & Setiawan, 2006).
Ketahanan Lamban Tuha patut menjadi perhatian ketika rumah tembok kerap dianggap sebagai lambang kemajuan, sementara rumah tradisional semakin berkurang.
Pengalaman masyarakat Ranau memperlihatkan bahwa pengetahuan membangun rumah tidak selalu bergantung pada teknologi modern.
Pengetahuan yang diwariskan melalui pengalaman tersebut layak dipelajari, terutama di wilayah yang berulang kali menghadapi ancaman gempa.
Pembahasan mengenai Lamban Tuha menjadi pokok seminar di Universitas Indo Global Mandiri (UIGM), Palembang, Sabtu, 10 Oktober 2026.
Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Selatan bersama UIGM menggelar kegiatan tersebut dalam rangkaian Pekan Kebudayaan Nasional.
Ari Siswanto, peneliti arsitektur tradisional dari Universitas Sriwijaya, memaparkan kajian Kalindang Lamban Tuha: Konstruksi Seismik Suku Ranau Sumatera Selatan, yang mendapat dukungan Dana Indonesiana 2025 dari Kementerian Kebudayaan.
Siswanto telah mendokumentasikan Lamban Tuha sejak akhir 1990-an. Keluarga pemilik rumah di Desa Surabaya tersebut berasal dari garis keturunan Dalom Perabu (Fransiska & Setiawan, 2006).
Ketangguhan Lamban Tuha bertumpu pada konstruksi bagian bawahnya. Bangunan ini menggunakan dua sistem fondasi, yaitu ari dan kalindang.
Pada sistem ari, tiang penyangga bertumpu pada balok kayu mendatar di permukaan tanah.
Sementara itu, kalindang terdiri atas balok-balok kayu bulat berdiameter 25–35 sentimeter yang disusun mendatar sebanyak 9–13 lapis di atas empat umpak batu.
Denah rumah yang simetris dan memanjang, serta penempatan kalindang pada sisi pendek bangunan, turut mendukung respons struktur terhadap guncangan.









