Gunawan Trihantoro Ajak Masyarakat Bijak Manfaatkan AI untuk Literasi

Penulis: Luhur Susilo | Editor: Eko Budi Utomo
Gunawan Trihantoro (tengah) mengajak masyarakat memanfaatkan AI secara bijak untuk memperkuat literasi, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis.

BLORA, KYAIMENTERI.ID — Pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) harus menjadi sarana untuk memperkuat literasi, bukan menggantikan proses berpikir dan kreativitas manusia. Penggunaannya perlu disertai kemampuan memeriksa informasi, mengolah gagasan, serta menjaga etika.

Hal tersebut disampaikan Gunawan Trihantoro, penulis buku, Ketua Satupena Blora, sekaligus Sekretaris Kreator Era AI Jawa Tengah, dalam Talkshow Literasi Digital Festival Literasi Blora (FLB) 2026 di panggung utama halaman Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Blora, Jumat (16/10/2026).

“AI boleh membantu kita menulis lebih cepat, tetapi jangan sampai AI mengambil suara kita. Pena tetap di tangan kita, AI cukup berada di samping kita,” ujar Gunawan.

Talkshow bertema “Pena di Tangan Kita, AI di Samping Kita” itu berlangsung pukul 09.45–11.45 WIB dan terbuka untuk masyarakat umum. Kegiatan tersebut juga menghadirkan Dimas Ridho Wahyu, praktisi literasi dan pendidikan.

Menurut Gunawan, perkembangan AI membuka peluang bagi masyarakat untuk meningkatkan produktivitas dalam menulis dan berkarya.

Teknologi ini dapat dimanfaatkan untuk mencari ide, menyusun kerangka tulisan, memperbaiki bahasa, hingga menjadi teman berdiskusi dalam proses kreatif.

Namun, informasi yang dihasilkan AI tidak boleh diterima begitu saja. Data, fakta, nama, dan sumber tetap perlu diperiksa sebelum digunakan atau dipublikasikan.

“AI bisa membantu menghasilkan kata, tetapi manusia yang memberikan makna. Data, fakta, nama, dan sumber tetap harus kita cek,” katanya.

Gunawan menambahkan, literasi digital tidak sebatas kemampuan menggunakan perangkat dan aplikasi. Literasi juga mencakup kecakapan memahami informasi, memeriksa kebenaran, berpikir kritis, menciptakan karya, dan menggunakan teknologi secara etis.

Sementara itu, Dimas Ridho Wahyu menyoroti penggunaan AI dalam pembelajaran. Ia mengingatkan agar peserta didik tidak menjadikan teknologi tersebut sebagai jalan pintas untuk menyelesaikan tugas.

“Kalau jawaban AI cuma disalin lalu dikumpulkan, yang pintar AI-nya. Kita tidak bertambah apa-apa. Pakai AI untuk berdiskusi, jangan untuk menyalin jawaban saja,” ujar Dimas.

Menurut Dimas, AI semestinya mendorong peserta didik untuk bertanya, berdiskusi, mengeksplorasi gagasan, dan mengembangkan kemampuan berpikir. Dengan begitu, teknologi dapat memperkaya proses belajar, bukan membuat penggunanya semakin pasif.

Dalam kesempatan tersebut, Gunawan juga memperkenalkan prinsip Tanya, Cek, Olah, dan Rasa sebagai panduan menggunakan AI.

Tanya berarti memberikan instruksi yang jelas. Cek berarti memverifikasi informasi yang dihasilkan. Olah berarti mengembangkan hasil AI dengan pemikiran sendiri. Adapun Rasa berarti memasukkan pengalaman, perspektif, dan nilai kemanusiaan ke dalam karya.

Ia berharap masyarakat, khususnya generasi muda, tidak takut menghadapi perkembangan AI. Namun, pemanfaatan teknologi perlu diimbangi kemampuan berpikir kritis dan karakter yang kuat.

“Masa depan bukan hanya milik mereka yang pintar menggunakan AI. Masa depan adalah milik mereka yang mampu menggabungkan kecerdasan, teknologi, dan karakter,” pungkasnya.

Bagikan Tulisan Ini