SMPN 34 Makassar Produksi Kompos Limbah Nangka

Penulis: Tony Muhammad | Editor: Eko Budi Utomo
Siswa-Siswi SMP Negeri 34 Makassar memproduksi sekitar 100 kilogram kompos melalui program kokurikuler berbasis lingkungan. (Foto: Dok. istimewa)

MAKASSAR, KYAIMENTERI.ID – SMPN 34 Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) menghadirkan inovasi pengolahan limbah organik menjadi kompos bernilai guna dan berpotensi ekonomi, melalui kegiatan kokurikuler.

Kepala SMPN 34 Makassar, Muhammad Nasir, mengatakan, inovasi mengembangkan produksi kompos berbahan limbah pohon nangka dengan nama Eco-Nangka 34, memanfaatkan berbagai bagian pohon yang selama ini kerap dianggap tidak berguna, seperti daun, kulit buah, buah busuk, hingga biji nangka.

“Siswa bersama guru pembimbing terlibat langsung mengumpulkan bahan-bahan organik dari lingkungan sekolah. Limbah diolah menjadi kompos sebagai bagian dari pembelajaran berbasis lingkungan,” katanya, Selasa (13/10/2026).

Ia mengharapkan siswa mampu memahami bahwa limbah yang selama ini dipandang tidak bernilai ternyata dapat diolah menjadi produk bermanfaat, bahkan memiliki peluang ekonomi jika dikembangkan secara serius.

“Program kokurikuler juga sarana pembentukan karakter siswa agar lebih peduli terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan,” ujarnya.

Siswa juga, lanjut Nasir diajak mengenali potensi pohon dan tumbuhan yang tumbuh subur di lingkungan sekolah sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan secara bijak.

Nasir menyebut produksi awal telah dihasilkan sekitar 100 kilogram kompos.

“Ini modal awal bagi sekolah untuk mengembangkan program pengelolaan sampah organik secara berkelanjutan,” ujarnya.

Melalui Eco-Nangka 34, SMPN 34 Makassar ingin menunjukkan bahwa lingkungan sekolah bukan sekadar tempat belajar, melainkan juga ruang untuk menumbuhkan kreativitas, kepedulian lingkungan, dan jiwa inovasi generasi muda.

Ia berharap pihak pelaku usaha dapat mengajak SMP Negeri 34 Makassar untuk menjalin kemitraan untuk menyalurkan hasil produksi kompos.

“Dukungan Pemerintah Kota Makassar agar pengolahan limbah organik di lingkungan sekolah dapat berkembang lebih cepat dan menjadi contoh bagi sekolah lainnya,” ujarnya.

Bagikan Tulisan Ini