MAKASSAR, KYAIMENTERI.ID – Dunia pendidikan dituntut tidak hanya mengejar kecerdasan akademik, tetapi juga membangun karakter dan nilai kemanusiaan di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan arus informasi.
Pesan tersebut disampaikan Penasihat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Agama (Kemenag) RI, Helmi Halimatul Udhma saat menghadiri peresmian peluncuran Taman Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) di Kampus Al Hidayah, lingkungan Madrasah Unggulan Terpadu, Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3, Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), Senin (24/8/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Helmi didampingi Kepala Biro Sumber Daya Manusia (SDM) Sekretariat Jenderal Kemenag RI, Muhammad Zain, Kepala Kantor Wilayah Kemenag, Provinsi Sulsel, Ali Yafid, Kabid Penmad Kemenag Sulsel H. Wahyuddin Hakim, serta Kakan Kemenag Kota Makassar, H. Muhammad.
“Helmi mengingatkan bahwa tantangan dunia pendidikan ke depan semakin kompleks,” katanya.
Istri Menteri Agama Nasaruddin Umar ini mengatakan bahwa anak-anak saat ini memiliki akses terhadap informasi yang jauh lebih luas dibanding generasi sebelumnya. Perkembangan tersebut juga membawa tantangan serius terhadap pembentukan karakter.
Ia menyebut bahwa individualisme, perundungan, intoleransi, menurunnya kepedulian sosial hingga persoalan lingkungan menjadi tantangan yang harus dijawab melalui pendidikan.
“Anak-anak kita tumbuh di tengah perkembangan teknologi yang sangat cepat,” ujarnya.
Karena itu, menurut Helmi, pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan generasi yang pintar secara akademik. Pendidikan juga harus mampu membentuk manusia yang berkarakter, peduli terhadap sesama dan memiliki tanggung jawab terhadap lingkungan.
“Pendidikan tidak boleh hanya menjawab pertanyaan seberapa pintar anak kita, tetapi juga harus bisa menjawab seberapa baik karakter anak kita,” katanya.
Kurikulum Berbasis Cinta
Helmi menilai Kurikulum Berbasis Cinta menjadi salah satu pendekatan penting untuk menjawab berbagai tantangan dunia pendidikan ke depan.
Konsep cinta, kata dia, harus diterjemahkan dalam kehidupan dan proses pembelajaran sehari-hari. Cinta kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, akan melahirkan ketakwaan. Cinta kepada Rasulullah melahirkan keteladanan. Cinta kepada orang tua melahirkan penghormatan, sementara cinta kepada guru akan melahirkan semangat untuk belajar.
Demikian pula, lanjut Helmi cinta kepada sesama akan membentuk kepedulian dan toleransi, sedangkan cinta kepada alam akan menumbuhkan kesadaran untuk menjaga kelestarian lingkungan.
“Di sinilah Kurikulum Berbasis Cinta memiliki relevansi yang sangat kuat,” ungkapnya.
Helmi juga menekankan pentingnya memasukkan kepedulian terhadap lingkungan ke dalam proses pendidikan melalui konsep ekoteologi.
Ia berharap Taman KBC yang diluncurkan di MAN 3 Kota Makassar ini tidak hanya menjadi fasilitas untuk memperindah kawasan madrasah, tetapi benar-benar menjadi ruang pembelajaran bagi siswa.
Menurutnya, menjaga lingkungan bukan hanya persoalan ekologis. Dalam perspektif agama, manusia diberikan amanah sebagai khalifah di bumi sehingga merawat alam merupakan bagian dari implementasi nilai-nilai keagamaan.
“Ekoteologi mengajarkan kepada kita bahwa hubungan manusia dengan alam juga merupakan bagian dari hubungan manusia dengan Sang Pencipta,” katanya.
Konsep Kawasan Pendidikan Terpadu
Taman Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) di lingkungan Madrasah Unggulan Terpadu Kota Makassar, lahir dari ide merancang konsep kawasan pendidikan terpadu bertajuk City of Madrasah, yang mengintegrasikan beberapa lembaga pendidikan di bawah Kemenag dalam satu lokasi.
Kepala MAN 3 Makassar, H. Zulfikah Nur mengatakan konsep tersebut menggabungkan empat lembaga pendidikan yang berada dalam satu kawasan seluas sekitar 4,7 hektare.
Empat Lembaga tersebut diantaranya MAN 3 Makassar, MAN Program Keagamaan (MAN PK), Madrasah Tsnawiyah Negeri (MTsN) 2 Makassar, dan Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 2 Makassar. Lembaga Pendidikan ini berada dibawah naungan Kementerian Agama.
“Jadi empat lembaga berada dalam satu lokasi yang saling terintegrasi,” ujar Zulfikah.
Pihak madrasah lanjut Zulfikah, juga menyiapkan pembangunan tower kantor terpadu setinggi enam lantai, yang akan menjadi pusat layanan dan perkantoran bersama bagi keempat lembaga.
Mantan Kepala MTsN 1 Kota Makassar ini mengatakan, lantai pertama direncanakan sebagai pusat layanan terpadu bagi masyarakat. Lantai dua akan digunakan sebagai kantor MIN 2 Makassar, lantai tiga untuk kantor MTsN 2 Makassar, dan lantai empat menjadi kantor MAN 3 Makassar.
Adapun lantai lima difungsikan sebagai ruang pertemuan bersama, sedangkan lantai enam direncanakan untuk kantor MAN PK.
“Ini akan menjadi pusat pelayanan terpadu. Jadi masyarakat yang datang ke kawasan madrasah cukup menuju satu tempat, untuk mendapatkan layanan dari semua lembaga,” katanya.
Kolaborasi Anggaran
Zulfikah menyebut pembangunan tower ini melalui kolaborasi anggaran dari beberapa lembaga yang berada di kawasan tersebut.
“Kami diskusikan konsep berkantor bersama, semacam office madrasah terpadu,” katanya.
Zulfikah berharap berbagai inovasi dengan semakin memperkuat posisi MAN 3 Makassar sebagai madrasah unggulan berstandar nasional bahkan menuju tingkat internasional.
Pengelolaan anggaran untuk kawasan Madrasah Unggulan Terpadu bersumber dari Rencana Kerja dan Anggaran Madrasah (RKAM), serta pembiayaan pembangunan infrastruktur melalui skema Surat Berharga Syariah Negara (SBSN).
Alokasi dan Sumber Anggaran Skema SBSN digunakan untuk pendanaan fisik dan sarana-prasarana strategis, seperti pembangunan Gedung Laboratorium Terpadu di lingkungan madrasah kawasan terpadu.
Rencana kerja dan anggaran Madrasah juga disusun secara mandiri oleh masing-masing satuan pendidikan di bawah koordinasi Kantor Kemenag untuk membiayai operasional, program digitalisasi pembelajaran, pembinaan prestasi, hingga pengembangan karakter.
Fokus program prioritas diantara akselerasi program digital madrasah berbasis IT dan pengembangan sarana penunjang kawasan City of Madrasah berstandar internasional.









