BOJONEGORO, KYAIMENTERI.ID – Murid SLB Muhammadiyah Padangan, sukses menunjukkan kemampuan terbaik mereka dalam kompetisi tingkat kabupaten.
Mereka meraih prestasi pada ajang Jambore Besar Sako Rintisan Pendidikan Khusus–Pendidikan Layanan Khusus (PK-PLK) se- Kabupaten Bojonegoro.
Sekolah ini berhasil menyabet berbagai gelar juara, termasuk memborong tiga posisi pertama di kategori lomba yang berbeda.
Tiga prestasi tersebut diraih dalam kategori Juara 1 Menyanyi (Khanzabilla Desy Tri Azzahra), Juara 1 Fashion Show (M. Vahri Saputra), dan Juara 1 Merangkai Bunga (Elfrida Natasya Haryani).
Berikutnya adalah Juara 2 Kriya Kayu (Achmad Tajuddin Anwar), Juara 3 Catur (Ranita Akrisbila Putri Latami). Raihan tersebut menjadi capaian penting dan membanggakan.
Bukti Potensi dan Talenta
Capaian ini juga menjadi bukti bahwa anak berkebutuhan khusus memiliki potensi dan talenta yang dapat berkembang ketika mendapat kesempatan, pendampingan, dan pembinaan yang tepat.
Guru SLB Muhammadiyah Padangan, Laelatul Rohmah mengatakan, Jambore Besar Sako tersebut diikuti 13 SLB dari seluruh Kabupaten Bojonegoro.
Persaingan antarpeserta menjadi pengalaman berharga bagi murid.
Baca Juga : Tak Hanya Fisik, Mendikdasmen Percepat Digitalisasi 1.104 SLB melalui Revitalisasi Masif 2026
Mereka tidak hanya berkompetisi, tetapi juga mendapatkan kesempatan berinteraksi dan menunjukkan kemampuan di hadapan peserta dari sekolah lain.
“Alhamdulillah, dalam jambore kali ini kami bisa meraih tiga Juara 1, yaitu menyanyi, fashion show, dan merangkai bunga,” ujar Laelatul ketika ditemui kyaimenteri.id, pekan lalu.
Menurutnya, keberhasilan tersebut tidak lahir secara instan.
Keikutsertaan dalam berbagai kompetisi, menjadi salah satu cara sekolah menggali potensi murid sekaligus membangun keberanian dan rasa percaya diri mereka.
86 Murid dengan Beragam Karakteristik
Ia mengungkapkan, saat ini SLB Muhammadiyah Padangan memiliki 86 murid.
Mereka berasal dari sejumlah wilayah, yakni Kecamatan Cepu, Sambong, Gayam, Ngambon, dan Ngraho.
Para murid memiliki karakteristik dan kebutuhan yang beragam. Ada peserta didik dengan hambatan pendengaran, intelektual, penglihatan, serta hambatan komunikasi dan sosial.
Laelatul menjelaskan, dari berbagai karakteristik tersebut, murid dengan hambatan intelektual menjadi kelompok yang paling banyak di SLB Muhammadiyah Padangan.
“Yang paling banyak adalah murid yang mengalami hambatan intelektual,” jelasnya.
Menurutnya, keragaman tersebut membuat proses pendidikan di SLB tidak bisa dilakukan dengan pendekatan yang seragam.
Setiap anak membutuhkan strategi pembelajaran dan pendampingan yang disesuaikan dengan kemampuan serta karakter masing-masing.
Guru Harus Paham Karakter Tiap Anak
Menurut Laelatul, menjadi guru SLB bukan hanya tentang menguasai materi pelajaran, tetapi juga harus memahami karakter dan kebutuhan anak berkebutuhan khusus.
“Tantangan terbesar menjadi guru SLB adalah harus menguasai dan memahami anak berkebutuhan khusus,” ungkapnya.
Pemahaman terhadap karakter anak, menjadi kunci agar guru mampu menemukan potensi yang dimiliki setiap peserta didik.
Sebab dari situlah bakat anak kemudian diarahkan melalui berbagai kegiatan, termasuk kompetisi.
Laelatul menilai, setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda.
Bangun Kepercayaan Diri
Karena itu, prestasi tidak semata-mata diukur dari piala yang berhasil dibawa pulang, tetapi juga dari keberanian anak untuk tampil, berproses, berkomunikasi, dan menunjukkan kemampuan terbaiknya.
Ia menambahkan, tiga Juara 1 di Jambore Besar Sako menjadi bukti bahwa ruang prestasi bagi anak berkebutuhan khusus harus terus dibuka.
“SLB Muhammadiyah Padangan tidak sekadar mengantarkan murid mengejar piala, tetapi juga membangun kepercayaan diri, kemandirian, kreativitas, dan keberanian,”imbuhnya. (*)









