KKN-MAs UMM Olah Limbah Kotoran Sapi Jadi Pupuk Organik Nutrigro di Desa Tawangsari

Penulis: 
Mahasiswa KKN-MAs Kelompok 99 dan 100 memamerkan hasil pembuatan pupuk kompos berbahan kotoran sapi, daun pisang, dan sekam padi dalam program kolaborasi NUTRIGRO di Desa Tawangsari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang. [foto/ist.]

MALANG, KYAIMENTERI.ID — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Muhammadiyah Aisyiyah (KKN-MAs) 2026 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mendorong pemanfaatan limbah peternakan menjadi produk yang bernilai guna bagi masyarakat.

Upaya tersebut diwujudkan melalui kolaborasi Kelompok 99 dan 100 KKN-MAs dalam program Nutrisi Untuk Growth Tanaman (NUTRIGRO) di Desa Tawangsari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang.

Program ini berfokus pada pengelolaan kotoran sapi dan biomassa tanaman menjadi pupuk organik. Mahasiswa memberikan edukasi mengenai jenis dan manfaat pupuk, pelatihan pembuatan pupuk menggunakan bahan lokal, serta pendampingan pengemasan dan pengembangan produk.

Ketua Kelompok 100 KKN-MAs, Adi Darmawan, mengatakan NUTRIGRO diharapkan dapat memberikan inovasi kepada masyarakat dalam mengelola limbah kotoran sapi.

“Dalam pengelolaan limbah kotoran sapi, kami mahasiswa KKN-MAs, khususnya Kelompok 99 dan 100, berharap program ini dapat memberikan inovasi dalam pembuatan pupuk organik,” ujar Adi dalam keterangannya di Malang, Rabu (19/8/2026).

Menurut Adi, program tersebut tidak sekadar mengolah kotoran sapi, tetapi juga memperkenalkan pemanfaatan limbah peternakan dan sisa biomassa tanaman sebagai sumber daya yang masih memiliki nilai guna.

Ia berharap NUTRIGRO menjadi langkah awal bagi masyarakat Desa Tawangsari untuk mengembangkan pengelolaan limbah yang lebih ramah lingkungan sekaligus mendukung kebutuhan pertanian.

Perwakilan Kelompok 99, Alif Agung, turut menyampaikan apresiasi atas dukungan masyarakat dan Pemerintah Desa Tawangsari terhadap pelaksanaan program kolaborasi tersebut.

Sementara Kepala Desa Tawangsari, Miftakul Anwar, mengapresiasi edukasi dan praktik pengolahan limbah yang dilakukan mahasiswa KKN-MAs. Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan pengetahuan baru kepada masyarakat dalam memanfaatkan bahan organik yang sebelumnya kurang dimanfaatkan.

Melalui inovasi tersebut, limbah yang berpotensi menjadi persoalan lingkungan dapat diarahkan menjadi sumber daya yang bermanfaat. Kolaborasi mahasiswa dan masyarakat juga diharapkan tidak berhenti setelah program KKN berakhir, tetapi berkembang menjadi kebiasaan pengelolaan limbah yang produktif dan berkelanjutan.

Pembuatan Pupuk NUTRIGRO

Dalam formulasi skala kecil, mahasiswa menggunakan lima kilogram kotoran sapi, 1,67 kilogram daun pisang layu, dan 1,67 kilogram sekam padi sebagai bahan utama kompos.

Kotoran sapi berfungsi sebagai sumber bahan organik dan nitrogen. Daun pisang memberikan tambahan karbon dan kalium, sedangkan sekam padi membantu menciptakan porositas dan aerasi pada tumpukan kompos.

Proses penguraian dipercepat menggunakan EM4 Pertanian dan molase atau tetes tebu, masing-masing sebanyak 8,3 mililiter. EM4 ini berfungsi sebagai inokulan mikroba, sementara molase menjadi sumber energi bagi mikroorganisme pada tahap awal pengomposan.

Sebelum dicampurkan, daun pisang dilayukan selama satu hingga dua hari kemudian dicacah berukuran sekitar 2–5 sentimeter. Kotoran sapi juga disortir untuk memastikan tidak terdapat benda asing seperti plastik, batu, tali, atau logam.

Seluruh bahan kemudian dicampurkan hingga merata. Larutan EM4 dan molase yang telah dilarutkan dengan air diberikan secara bertahap sambil bahan dibalik. Kelembapan campuran diperiksa menggunakan uji genggam agar tidak terlalu kering maupun terlalu basah.

Campuran selanjutnya ditumpuk setinggi sekitar 50–60 sentimeter dan ditutup menggunakan terpal untuk menjaga kelembapan serta suhu. Fermentasi aktif berlangsung sekitar tiga hingga empat minggu dengan pemantauan secara berkala.

Mahasiswa melakukan pembalikan tumpukan secara bertahap. Pada hari ketiga, suhu kompos dapat meningkat hingga 45–60 derajat celsius sebagai bagian dari fase termofilik. Pembalikan ini dilakukan untuk mengurangi panas berlebih sekaligus memastikan pemerataan oksigen.

Pemantauan dilanjutkan pada hari ke-7, ke-14, hingga hari ke-21 sampai hari ke-28. Kompos dinyatakan matang apabila berubah warna menjadi cokelat tua hingga kehitaman, bertekstur remah atau gembur, suhunya kembali mendekati suhu lingkungan, dan bau menyengat telah hilang.

Kompos matang tersebut dapat dimanfaatkan sebagai campuran media tanam, pupuk tanaman dalam pot atau polybag, pupuk dasar lahan sayuran, serta pemupukan tanaman buah dan tanaman tahunan.

Melalui program NUTRIGRO ini, mahasisa KKN-MAs Kelompok 99 dan 100 UMM tidak hanya mengajak masyarakat mengurangi limbah peternakan, tetapi juga mendorong pemanfaatannya menjadi produk yang mendukung pertanian sekaligus berpotensi dikembangkan sebagai usaha masyarakat. (*)

Bagikan Tulisan Ini