Tips Jadi Pemimpin ala Din Syamsuddin: Harus Doyan Kepala Ikan, Jangan Ekornya!

Penulis: Zaki Zain | Editor: Syaifudin
Selera kuliner Prof Din Samsudin di Palembang, Pindang Kepala Patin

PALEMBANG, KYAIMENTERI.ID — Ternyata urusan menjadi ketua bisa dikaitkan dengan bagian ikan yang dimakan.

Setidaknya begitu guyonan mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Dr. Din Syamsuddin saat berada di Palembang.

Din menyelipkan cerita ringan itu ketika mengisi pengajian Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Palembang di Masjid Ar-Rofiah Ilyas Lassik, KM 7 Palembang, Kamis (3/9/2026).

Pengajian tersebut mengangkat tema “Menyongsong Muhammadiyah Muktamar yang Bermarwah dan Bermartabat”.

Di tengah pembicaraan tentang Muhammadiyah, Din yang pernah menjabat Ketua Umum PP Muhammadiyah selama dua periode, 2005–2010 dan 2010–2015, tiba-tiba membawa jamaah ke urusan kuliner.

Ia bercerita bahwa setiap datang ke Palembang dirinya sangat senang menikmati pindang. Khususnya, ia menyebut pindang Musi Rawas sebagai salah satu sajian yang ia gemari.

Namun, rupanya Din punya kebiasaan khusus ketika menyantap pindang. Bagian yang ia pilih bukan ekor ataupun bagian tubuh ikan lainnya.

“Kalau saya makan pindang Musi Rawas, pasti kepalanya,” cerita Din.

Dari situlah guyonannya mulai mengarah ke urusan kepemimpinan.

Din kemudian mengatakan seolah-olah kebiasaannya memilih kepala ikan itulah yang menjadi salah satu “rahasia” mengapa dirinya pernah terpilih menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah.

Pandangan Din lalu beralih kepada Ketua PDM Kota Palembang Prof. Dr. Muh Mawangir, M.Ag., yang berada di dekatnya.

“Pak Ketua PDM pasti juga suka makan kepala ikan,” ujarnya sambil melirik Mawangir.

Ucapan itu mulai mengundang tawa jamaah.

Ia kemudian memberikan “resep” kepada jamaah yang barangkali suatu saat ingin menjadi pemimpin.

“Makanya jangan makan ekornya, nanti pasti cuma jadi pengikut,” selorohnya.

Hadirin pun tertawa mendengar permainan kata antara kepala ikan sebagai simbol pemimpin dan ekor sebagai pengikut tersebut.

Boleh jadi teori kepemimpinan ala Din Syamsuddin ini tidak akan ditemukan dalam buku-buku leadership.

Namun, bagi yang ingin menjadi ketua, barangkali lain kali ketika makan pindang sudah tahu bagian mana yang harus lebih dahulu diincar.

Bagi pembaca yang belum akrab dengan kuliner Palembang, pindang patin memang termasuk salah satu sajian yang sangat populer.

Soal bagian terenak, banyak penikmat pindang justru mengincar kepalanya karena daging di sekitarnya lebih lembut, gurih, dan menyerap kuah pindang yang asam, pedas, serta kaya rempah.

Jadi, kalau suatu saat datang ke Palembang dan memesan pindang patin, pilihlah kepalanya karena itu bagian paling enak. Setidaknya, begitulah “petuah kuliner” dari guyonan Prof. Din siang itu. (*)

 

 

 

 

Bagikan Tulisan Ini