Abdul Mu’ti Bagikan Kisah Lucu Mubalig yang Sedih Ramadan Berakhir, Jemaah Dibuat Tertawa

Penulis: 
Ilustrasi [abdul syakur]

KYAIMENTERI.ID – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, membagikan kisah ringan yang sarat humor tentang seorang sahabat akrabnya di Muhammadiyah yang telah lama dikenal sebagai mubalig.

Menurut pria yang biasa disapa Kyai Menteri ini, bahwa sahabatnya tersebut sudah berdakwah sejak masih aktif di Pemuda Muhammadiyah. Dakwah dari mimbar ke mimbar menjadi sumber penghasilan utamanya. Di kalangan Muhammadiyah, ia dikenal luas bukan hanya karena penguasaan ilmunya yang mendalam, tetapi juga gaya ceramahnya yang hidup dan penuh humor sehingga mampu menghidupkan suasana.

Suatu ketika, pada penghujung Ramadan, mubalig tersebut menyampaikan ceramah yang mengajak jamaah memanfaatkan sisa bulan suci dengan memperbanyak ibadah. Dalam ceramahnya, ia mengutip sebuah riwayat yang dinisbatkan kepada Ibn Hambali tentang banyaknya manusia yang bersedih saat harus berpisah dengan Ramadan.

Mubalig itu menjelaskan bahwa kelompok pertama yang bersedih adalah mereka yang merasakan kesyahduan dan keutamaan ibadah selama Ramadan. Mereka berharap masih diberi kesempatan untuk kembali bertemu dengan Ramadan pada tahun berikutnya.

Setelah itu, ia menyebut ada kelompok kedua yang kesedihannya bahkan melebihi kelompok pertama. Menurutnya, kelompok ini begitu sedih hingga terkadang menangis. Ucapannya membuat jamaah penasaran dan suasana seketika menjadi hening.

Dengan ekspresi serius, ia kemudian berkata, “Kelompok kedua itu adalah para mubalig. Seperti saya ini.”

Pernyataan tersebut membuat jamaah semakin penasaran. Ia lalu melontarkan pertanyaan, “Mengapa para mubalig bersedih ditinggal Ramadan?” Namun, tak seorang pun menjawab.

Tak lama kemudian, ia menjawab pertanyaannya sendiri dengan nada datar.

“Para mubalig begitu bersedih ditinggal Ramadan karena pendapatannya berkurang drastis. Selama Ramadan, para mubalig ceramah setiap hari, minimal sekali. Bahkan bisa dua atau tiga kali. Setelah Ramadan, ceramah hanya seminggu sekali. Bagaimana para mubalig tidak sedih?” ujarnya.

Jawaban tak terduga itu langsung memecah suasana. Jamaah yang semula larut dalam suasana haru spontan tertawa mendengar penjelasan tersebut.

Menutup kisahnya, Abdul Mu’ti berharap cerita ringan itu juga dapat menghadirkan senyum bagi para mubalig yang membacanya.

“Semoga para mubalig yang membaca cerita ini tertawa juga,” tuturnya.

(Cerita ini disadur dari buku ‘Guyon Maton’ karangan Abdul Mu’ti, cetakan II: Oktober 2022)

Bagikan Tulisan Ini