JAKARTA, KYAIMENTERI.ID – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, membagikan kisah ringan namun penuh makna tentang perjalanan kariernya sebagai dosen yang telah dijalani selama lebih dari 25 tahun. Menurutnya, salah satu kebahagiaan terbesar menjadi seorang pendidik adalah dapat bertemu kembali dengan mahasiswa yang pernah diajar dan menyaksikan keberhasilan mereka.
Pengalaman tersebut ia ceritakan saat menghadiri promosi doktor seorang sahabat. Dalam kesempatan itu, Kyai Menteri Mu’ti hadir sebagai tamu undangan, bukan sebagai promotor maupun penguji.
Usai prosesi promosi selesai, ia berbincang santai dengan sahabatnya. Di tengah obrolan tersebut, seorang pria muda tiba-tiba menghampirinya.
“Mohon maaf, apakah Bapak, Pak Abdul Mu’ti?” tanya pemuda itu.
Kyai Menteri Mu’ti pun mengiyakan dan balik bertanya mengenai identitas pria tersebut.
“Saya dulu mahasiswa Bapak.”
Percakapan berlanjut dengan suasana hangat. Kyai Menteri Mu’ti menanyakan berbagai hal, mulai dari pekerjaan, keluarga, hingga bagaimana mantan mahasiswanya itu masih mengenalinya setelah lebih dari satu dekade tidak bertemu.
“Anda kan sudah lebih dari sepuluh tahun tidak ketemu saya. Bagaimana masih ingat saya?” tanya Kyai Menteri Mu’ti sambil menelisik.
Mantan mahasiswanya menjawab dengan penuh keyakinan.
“Saya sangat hafal nada bicara dan suara Bapak.”
Jawaban itu membuat Kyai Menteri Mu’ti semakin penasaran.
“Kok bisa?”
Sambil tersenyum malu-malu, mantan mahasiswa tersebut mengungkapkan alasan yang tak disangka-sangka.
“Bapak adalah dosen favorit saya.”
Mendengar pengakuan itu, Kyai Menteri Mu’ti sempat merasa bangga dan kembali bertanya mengenai alasannya.
“Oh ya? Apa alasannya?”
Jawaban yang keluar justru mengundang tawa.
“Ada dua alasan. Pertama, Bapak jarang masuk. Kedua, nilai dari Bapak murah, bagus-bagus.”
Mendengar jawaban spontan tersebut, Kyai Menteri Mu’ti dan mantan mahasiswanya sama-sama tertawa. Kisah sederhana itu menjadi pengingat bahwa hubungan antara dosen dan mahasiswa sering kali menyimpan kenangan unik yang tak terlupakan.
Di akhir ceritanya, Kyai Menteri Mu’ti berharap pengalaman lucu tersebut dapat menghadirkan senyum bagi siapa pun yang membacanya. “Saya dan mahasiswa tertawa bersama. Semoga pembaca juga tertawa.” (*)
(Cerita ini disadur dari buku ‘Guyon Maton’ karangan Abdul Mu’ti, cetakan II: Oktober 2022)









