Mbarang, Seni yang Bertahan dari Jalan ke Jalan

Penulis: 
Seni tradisi Sindir Barangan atau Ledhek Mbarang, kesenian yang bergerak dari rumah ke rumah atau dari satu keramaian ke keramaian lain.

Di sinilah mbarang memperlihatkan paradoksnya. Seni yang dahulu mampu memasuki ruang sosial warga justru dapat tersisih ketika ukuran “kesenian bernilai” bergeser menuju panggung resmi, festival, paket pertunjukan, dan industri pariwisata. Seni rakyat berisiko hidup hanya ketika memperoleh legitimasi institusional.

Perbedaan mbarang dengan tayub panggung modern terutama terletak pada mobilitas, skala, dan mekanisme ekonominya. Mbarang bersifat adaptif, bergerak mengikuti keramaian, menggunakan perangkat relatif ringkas, dan mengandalkan hubungan langsung dengan warga. Tayub panggung cenderung lebih terorganisasi dan berbasis pemesanan.

Namun, menyebut mbarang sebagai bentuk seni “rendahan” justru mengabaikan kecerdasan adaptif di baliknya. Para seniman membaca situasi, memilih tempat, membangun komunikasi, mengatur durasi, dan menyesuaikan repertoar. Mereka mengubah keterbatasan modal menjadi keluwesan artistik.

Teori dramaturgi mbarang membantu membaca proses tersebut. Pertunjukan bukan sekadar penampilan di depan penonton, melainkan pengelolaan kesan dalam interaksi sosial. Busana, gerak, musik, ruang, dan respons penonton menjadi perangkat untuk mempertahankan situasi pertunjukan.

Mbarang bahkan memperlihatkan bahwa keberlangsungan seni bergantung pada kemampuan membangun relasi. Seniman tidak cukup mahir menari atau menabuh. Mereka harus diterima komunitas, dikenali publik, dan mampu membuat pertunjukan terasa relevan. Seni bertahan karena memiliki ekologi sosial.

Masalahnya, ekologi itu kini berubah. Gawai, video pendek, musik populer, dan hiburan digital memperebutkan perhatian generasi muda. Penelitian tentang Ledhek Mbarang di Blora juga mencatat tekanan modernisasi dan pergeseran minat generasi muda sebagai tantangan bagi keberlanjutannya.

Bagikan Tulisan Ini