oleh Luhur Susilo – Pegiat Satupena Blora
Dinding beton megah dan tiang pancang modern kerap menandai lahirnya sebuah gedung sekolah baru di berbagai daerah. Sayangnya, proses fisik yang mekanis tersebut kerap mengabaikan satu hal krusial: dimensi spiritual dan kemanusiaan dari ruang belajar.
Pembangunan fasilitas pendidikan masa kini sering kali terjebak pada kalkulasi teknis dan efisiensi anggaran semata. Manusia di dalamnya seolah terlupakan, padahal gedung sekolah dirancang untuk memanusiakan manusia melalui proses pendidikan yang luhur dan berkelanjutan.
Dalam tradisi masyarakat Jawa, kelemahan mendasar dari pola pembangunan modern tersebut dijembatani melalui ritual kuno yang sarat makna. Ritual tersebut dikenal dengan sebutan kenduri unggah penuwun atau sering juga disapa munggah suwunan.
Unggah penuwun merupakan tradisi selamatan adat saat pemasangan balok kayu penopang atap teratas (penuwun atau blandar). Momen krusial ini menandai selesainya struktur utama bangunan sebelum atap genteng ditutup rapat secara keseluruhan.
Secara etimologis dan filosofis, kata penuwun berakar dari kata nyuwun yang berarti memohon dengan ketulusan hati. Pemasangan balok tertinggi bukan sekadar pekerjaan konstruksi fisik, melainkan manifestasi permohonan keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Di tengah arus komersialisasi pendidikan saat ini, keberadaan ritual ini hadir sebagai pengingat yang sangat fundamental. Gedung sekolah bukanlah sekadar benda mati, melainkan “ruang bernyawa” yang akan menampung cita-cita masa depan generasi muda.
Jika ditinjau dari sudut pandang antropologi budaya, antropolog Clifford Geertz dalam studinya menekankan betapa pentingnya ritus shodaqohan. Ritual ini berfungsi sebagai integrasi simbolis untuk menciptakan keteraturan sosial, keharmonisan, dan ketenangan spiritual masyarakat.
Pada ritual unggah penuwun, kebudayaan Jawa menghadirkan berbagai ubo rampe atau kelengkapan simbolis yang khas. Setiap elemen ubo rampe yang diikatkan di atas balok atap menyimpan pesan pedagogis yang sangat mendalam bagi civitas akademika.
Sebut saja keberadaan tebu wulung yang melambangkan antebe kalbu atau kemantapan hati seluruh warga sekolah. Elemen ini mengajarkan bahwa pengelola sekolah dan para pendidik harus memiliki keteguhan niat dalam mengabdi di dunia pendidikan.
Ada pula pisang raja dan pari sak unting (seikat padi) yang melambangkan kemuliaan serta ketahanan pangan. Simbol ini mendoakan agar sekolah senantiasa menjadi sumber ilmu yang melimpah, bermanfaat, serta menyejahterakan kehidupan warga sekolah.
Penggantungan Payung Agung dan bendera Merah Putih di titik puncak struktur bangunan juga mengemas simbol penting. Kombinasi ini menegaskan perlindungan spiritual bagi penghuni sekolah sekaligus penanaman rasa nasionalisme yang mengakar kuat pada bumi pertiwi.
Sajian kuliner seperti tumpeng nasi, jenang sengkolo, dan ayam ingkung kemudian disajikan dalam kenduri bersama. Hidangan ini dinikmati secara serentak oleh pimpinan sekolah, panitia pembangunan, para tenaga kerja dan tukang, hingga masyarakat sekitar lokasi sekolah.
Dari perspektif psikologi positif yang dipelopori Martin Seligman, tradisi makan bersama ini merupakan manifestasi fisik dari gratitude (rasa syukur). Ungkapan syukur yang terorganisir secara komunal terbukti efektif meningkatkan subjective well-being atau kesejahteraan emosional individu.
Selain itu, prosesi doa bersama ini berfungsi efektif sebagai coping mechanism untuk mereduksi future anxiety atau kecemasan masa depan. Risiko kecelakaan kerja maupun ketidakpastian fungsi gedung ditenangkan melalui kepasrahan kognitif kepada Sang Maha Pencipta.
Berdasarkan teori hierarki kebutuhan milik Abraham Maslow, kebutuhan dasar manusia akan rasa aman (safety needs) harus terpenuhi lebih dahulu. Ritual penuwun secara simbolis mengabsahkan bahwa sekolah telah menjadi ruang berteduh yang aman bagi aktivitas pembelajaran.
Secara sosiologis, kenduri unggah penuwun merupakan sarana reproduksi modal sosial (social capital) sebagaimana digagas oleh Robert Putnam. Ritual ini mempererat ikatan (bonding) sosial antara institusi pendidikan formal dengan masyarakat lokal yang berada di sekitarnya.
Dalam era modernisasi yang cenderung individualistis, pembangunan gedung sekolah sering kali menciptakan jarak sosial yang lebar. Tukang bangunan kerap dianggap sebatas buruh kasar, sementara warga lokal hanya menjadi penonton yang terasing di tanahnya sendiri.
Lewat tradisi unggah penuwun, sekat-sekat hierarki sosial tersebut seketika runtuh dalam satu lingkaran kenduri. Sosiolog Émile Durkheim menyebut fenomena peleburan emosi kolektif ini sebagai collective effervescence—momen ketika setiap individu merasa menyatu dalam energi kelompok.
Duduk bersila bersama di atas lantai semen yang belum usai dikerjakan menciptakan atmosfer kesetaraan yang otentik. Pihak sekolah memanusiakan para pekerja bangunan, sedangkan warga menyambut kehadiran gedung sekolah baru tersebut dengan penuh rasa memiliki.
Sesuai Social Exchange Theory (Teori Pertukaran Sosial), interaksi timbal balik (reciprocity) ini membangun fondasi keharmonisan lingkungan. Sekolah memperoleh jaminan keamanan sosial dari warga setempat, sementara warga merasa dihargai dan diakui keberadaannya oleh pihak sekolah.
Nilai edukatif paling mendasar dari ritual unggah penuwun terletak pada aksentuasi manfaat gedung sekolah itu sendiri. Gedung sekolah tidak dibangun hanya untuk megah secara fisik, melainkan untuk menebarkan keberkahan intelektual, moral, dan sosial.
Menaikkan balok penuwun melambangkan doa agar ilmu pengetahuan yang diajarkan di tempat tersebut dapat membumbung tinggi. Kendati demikian, ilmu tersebut harus tetap memayungi dan melindungi masyarakat luas, sebagaimana fungsi fisik atap pada sebuah bangunan.
Pendidikan karakter yang gencar didengungkan dalam kurikulum nasional sebetulnya telah terpatri secara intuitif dalam tradisi lokal ini. Para siswa kelak dapat mempelajari nilai gotong royong, religiusitas, dan kerendahan hati langsung dari rekam jejak sejarah gedung mereka.
Kehadiran tradisi lokal ini membuktikan bahwa modernitas dunia pendidikan dan kearifan lokal tidak harus saling bertentangan. Sebaliknya, nilai-nilai kebudayaan justru mampu memberikan ruh spiritualitas pada bangunan fisik sekolah yang kaku dan serba dingin.
Memosisikan kembali ritual unggah penuwun dalam konteks pembangunan sekolah modern adalah upaya merekonstruksi humanisme pendidikan. Sekolah tidak boleh tereduksi sekadar menjadi pabrik pencetak ijazah, melainkan laboratorium persemaian nilai-nilai kemanusiaan yang luhur.
Pada akhirnya, ketika balok penuwun berhasil dipasang tegak di puncak bangunan, doa-doa yang dilangitkan tidak akan menguap begitu saja. Doa tersebut akan terus melingkupi dan menaungi setiap proses tumbuh kembang peserta didik di dalamnya.
Gedung sekolah yang kokoh tidak pernah hanya ditopang oleh kekuatan semen dan besi tulangan baja semata. Gedung itu berdiri tegak karena disangga oleh pilar kerukunan warga, rasa syukur yang mendalam, dan cita-cita luhur memanusiakan manusia.(hung)









