SDN Monginsidi 3 Makassar Luncurkan MONTIG SAHABAT Cegah Perundungan

Penulis: 
SDN Monginsidi 3 Makassar meluncurkan inovasi MONTIG SAHABAT untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan menyenangkan sekaligus mencegah tindakan kekerasan dan perundungan.(Foto: Dok.istimewa)

MAKASSAR, KYAIMENTERI.ID – UPTD SPF SDN Monginsidi 3 Makassar, Sulawesi Selatan meluncurkan inovasi ‘MONTIG SAHABAT’ yang merupakan akronim dari Mongisidi Tiga Sekolah Aman, Harmonis, Aktif, Bersahabat, Asri, dan Terbuka. Program ini dirancang untuk membangun kebiasaan saling menghormati di antara seluruh warga sekolah.

Kepala UPT SPF SD Negeri Monginsidi 3 Makassar, Wiantik Aksari Basri mengatakan, program tersebut menjadi salah satu upaya membangun lingkungan pendidikan yang aman bagi murid, mengingat SD tidak memiliki layanan bimbingan dan konseling (BK) seperti yang dikenal pada jenjang pendidikan SMP atau SMA.

“Untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan menyenangkan sekaligus mencegah tindakan kekerasan dan perundungan atau bullying,” katanya, di Makassar, Jumat (16/10/2026).

Wiantik mengatakan pihak sekolah telah merancang sejumlah program selama satu tahun ke depan. Di antaranya penyediaan kotak aduan, pelayanan pengaduan secara online, serta pembentukan DUTA MONTIG SAHABAT dari kalangan peserta didik.

Langkah ini, lanjutnya sejalan dengan Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman, yang menekankan pentingnya menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, inklusif, serta memuliakan peserta didik.

Untuk kegiatan awal, katanya telah dilakukan pembentukan Tim MONTIG SAHABAT dengan anggota perwakilan murid, diseminasi antikekerasan di satuan pendidikan, serta penyediaan layanan pengaduan secara manual dan online.

“Pembentukan tim yang melibatkan murid menjadi bagian dari upaya menumbuhkan kepedulian bersama terhadap suasana sekolah,” ujarnya.

Sedangkan diseminasi antikekerasan diarahkan untuk membangun ekosistem pendidikan yang aman dan nyaman.

Karena itu, sekolah perlu memiliki mekanisme pendampingan dan pelayanan yang dapat menjadi ruang bagi peserta didik untuk menyampaikan berbagai persoalan maupun kebutuhan mereka.

“Pembentukan Tim merupakan bagian dari upaya sekolah menghadirkan sistem pelayanan yang lebih dekat dengan peserta didik,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa sekolah tidak hanya ingin menciptakan lingkungan yang aman secara fisik, tetapi juga membangun suasana yang membuat peserta didik merasa dihargai, didengar, diterima, dan nyaman ketika berada di sekolah.

“Mereka harus memiliki ruang untuk menyampaikan apa yang dirasakan, baik terkait pembelajaran, pertemanan maupun persoalan lainnya,” ujarnya.

Keberadaan DUTA MONTIG SAHABAT diharapkan menjadi bagian dari gerakan bersama untuk membangun budaya saling menghargai, peduli terhadap sesama, menjaga kebersihan dan keasrian lingkungan, serta berani menyampaikan persoalan melalui saluran yang tepat.

“Keberhasilan program tidak hanya bergantung pada tim yang telah dibentuk. Kolaborasi antara sekolah, peserta didik, orang tua, komite, dan seluruh warga sekolah menjadi kunci agar budaya aman dan nyaman dapat tumbuh secara berkelanjutan,” ujarnya.

Dikatakan bahwa sekolah juga akan terus melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program sehingga berbagai bentuk layanan dan pendampingan dapat disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik.

Sekolah juga menyediakan saluran pengaduan agar persoalan yang dialami atau diketahui warga sekolah dapat disampaikan.

“Seluruh unsur sekolah juga melakukan penandatanganan komitmen bersama sebagai bentuk kesepakatan untuk secara konsisten membangun sekolah yang aman, nyaman, kondusif, dan menyenangkan,” ujarnya.

Bagikan Tulisan Ini