YOGYAKARTA, KYAIMENTERI.ID – Peternakan ayam petelur TelurMoe Farm di kawasan depan kampus UNISA Yogyakarta tidak sekadar menghasilkan telur. Usaha tersebut menjadi ruang kerja sekaligus tempat belajar bagi kelompok penyandang disabilitas untuk membangun kemandirian ekonomi.
Hal itu menjadi salah satu perhatian rombongan Pemerintah Desa dan BPD Jemawan, Kecamatan Jatinom, Klaten, saat melakukan kunjungan belajar ke TelurMoe Farm, Minggu (27/9/2026). Sekitar 50 peserta dari unsur Pemdes, BPD, RT-RW, BUMDes, dan Koperasi Desa Merah Putih mengikuti kunjungan tersebut.
Fasilitator MPM PP Muhammadiyah yang mendampingi kelompok difabel, Syauqi, mengatakan TelurMoe Farm lahir dari kolaborasi Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, UNISA, dan LAZISMU Pimpinan Pusat
“MPM PP Muhammadiyah menginisiasi program pemberdayaan, UNISA menyediakan lahan, sedangkan modal usaha didukung LAZISMU PP,” kata Syauqi dalam keterangan yang diterima kyaimenteri.id.
Kolaborasi tersebut kemudian berkembang menjadi usaha peternakan ayam petelur yang dikelola kelompok difabel.
Selain menghasilkan produk, TelurMoe Farm menjadi ruang bagi anggota kelompok untuk belajar bekerja dan mengembangkan kemampuan sesuai kondisi masing-masing.
Salah seorang pengurus kelompok, Yanti, mengatakan mereka memulai usaha dengan sekitar 300 ekor ayam. Setelah melalui proses belajar dan pendampingan, jumlah ayam yang ditangani kini mencapai sekitar 1.000 ekor.
Produksinya rata-rata mencapai 900–920 butir telur per hari. Bagi Yanti dan anggota kelompok lainnya, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa penyandang disabilitas tetap memiliki ruang untuk bekerja dan menghasilkan ketika mendapat kesempatan serta dukungan yang sesuai.
“Kami mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kondisi keterbatasan fisik kami,” kata Yanti.









