TelurMoe Farm di Yogyakarta Buka Ruang Kerja bagi Difabel

Penulis: 
TelurMoe Farm menerima kunjungan dari Pemdes Jemawan, Minggu (27/9/2026). Peternakan ayam petelur TelurMoe Farm ini memberdayakan kelompok penyandang disabilitas - Foto: Wahyudi Nasution untuk kyaimenteri.id

Telur yang dihasilkan TelurMoe dipasarkan sebagai produk dengan kandungan rendah kalori dan lemak serta kaya protein dan omega 3, 6, dan 9.

Namun, pemasaran menjadi salah satu tantangan yang masih dihadapi kelompok tersebut.

Untuk memperluas pasar, MPM PP Muhammadiyah turut membantu mencarikan pelanggan. Anggota kelompok juga ikut memasarkan produk secara mandiri.

“Di samping MPM PP membantu mencarikan pelanggan, kami semua anggota ikut menjadi marketing, ikut memasarkan semampu kami. Lumayan, kami bisa mendapatkan margin untuk tambahan pendapatan harian kami,” ujar Yanti.

Menurut dia, proses tersebut membuat anggota kelompok tidak hanya menjadi penerima manfaat. Mereka ikut terlibat dalam produksi hingga pemasaran dan memperoleh tambahan pendapatan dari usaha yang dijalankan.

Bagi rombongan Jemawan, pengalaman di TelurMoe Farm menjadi gambaran bahwa pemberdayaan masyarakat tidak berhenti pada pemberian bantuan modal.

Pendampingan, kesempatan belajar, akses pasar, dan ruang untuk bekerja menjadi bagian penting agar penerima manfaat dapat berkembang menjadi pelaku usaha.

Pengalaman itu juga relevan dengan upaya pengembangan potensi masyarakat desa. Beragam kelompok, mulai petani, peternak, pelaku UMKM, pemuda, perempuan, hingga penyandang disabilitas, memiliki kemampuan yang dapat dikembangkan jika mendapat ruang dan kesempatan.

TelurMoe Farm menunjukkan bahwa keterbatasan fisik tidak otomatis membatasi produktivitas. Dengan pekerjaan yang disesuaikan dengan kemampuan, pendampingan, dan akses usaha, kelompok difabel dapat terlibat dalam kegiatan ekonomi sekaligus memperoleh penghasilan.

Dari sekitar 1.000 ekor ayam yang dikelola, TelurMoe Farm tidak hanya menghasilkan ratusan butir telur setiap hari. Usaha tersebut juga membuka ruang bagi kelompok difabel untuk bekerja, belajar, dan membangun kemandirian ekonomi.

Bagikan Tulisan Ini