Din Syamsuddin Paparkan Tujuh Tabiat Hamba Hebat dalam Tausiah Muharam Kemendikdasmen

Penulis: 
Guru Besar FISIP Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Din Syamsuddin: hijrah harus diwujudkan melalui transformasi cara berpikir agar masyarakat terus berkembang dari kondisi yang belum maju menjadi maju, dari yang sudah maju menjadi semakin maju. (foto/Abdul Syakur)

JAKARTA, KYAIMENTERI.ID – Guru Besar FISIP Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Din Syamsuddin, menegaskan bahwa semangat hijrah tidak hanya dimaknai sebagai perpindahan secara fisik atau penampilan, tetapi juga sebagai perubahan pola pikir (mindset) menuju kehidupan yang lebih baik demi mewujudkan Indonesia maju.

Pandangan tersebut disampaikan Din saat memberikan ceramah dalam Tausiah Muharam 1448 Hijriah bertema “Hijrah untuk Indonesia Maju” di Masjid Baitut Tholibin, Kantor Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Jakarta, Senin (6/7).

Kegiatan tersebut dihadiri Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti beserta Wakil Menteri Fajar Riza Ul Haq, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto, serta Menteri Kebudayaan Fadli Zon.

Menurut Din, makna hijrah harus diwujudkan melalui transformasi cara berpikir agar masyarakat terus berkembang dari kondisi yang belum maju menjadi maju, dari yang sudah maju menjadi semakin maju.

“Hijrah untuk Indonesia maju harus dilakukan dengan perubahan alam pikiran (mindset), perubahan minda, dari keadaan yang belum maju menjadi maju, sudah maju menjadi lebih maju, dan sudah lebih maju menjadi lebih-lebih maju,” ujar mantan Ketum PP Muhammadiyah dua perione ini.

Untuk memperkuat pandangannya, Din mengutip Surah At-Taubah ayat 20 yang menyatakan bahwa orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad di jalan Allah dengan harta serta jiwanya memiliki derajat yang tinggi di sisi Allah dan termasuk golongan yang beruntung.

Inspirasi dari Program Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat

Dalam tausiah tersebut, Din mengaku terinspirasi oleh program Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (KAIH) yang digagas Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti.

Ia kemudian memperkenalkan gagasan yang disebutnya sebagai “Tujuh Tabiat Hamba Hebat”, yang ditujukan khusus bagi umat Islam.

“Tapi ini untuk umat Islam, bukan untuk anak-anak pelajar. Boleh enggak saya menyaingi menteri?” ujarnya yang disambut tawa para hadirin.

(ilustrasi/Abdul Syakur)

Tujuh Tabiat Hamba Hebat

Din menjelaskan tujuh kebiasaan tersebut sebagai pedoman membangun karakter umat Islam yang berkontribusi bagi kemajuan bangsa. Adapun tujuh tabiat tersebut meliputi:

1. Bangun tidur tak lupa salat.
2. Beribadah dengan memahami hakikatnya, sehingga ibadah memberikan dampak nyata dalam kehidupan sehari-hari.
3. Menebar karya nyata yang bermanfaat bagi masyarakat.
4. Bergaul dengan sesama sebagai sahabat untuk memperkuat persaudaraan.
5. Berjuang bersama membangun masyarakat melalui kolaborasi dan kepedulian sosial.
6. Percaya diri menghadapi berbagai tipu muslihat dan tantangan, terutama dalam membangun persatuan umat.
7. Mewujudkan Peradaban Maju untuk Dunia dan Akhirat sebagai tujuan akhir perjuangan.

Din menekankan bahwa ibadah tidak boleh berhenti pada aspek ritual semata, melainkan harus melahirkan perubahan perilaku dan integritas.

“Jadi bukan salat hanya untuk menggugurkan kewajiban aja, tetapi harus memahami hakikat salat itu. Supaya salat kita berdampak. Apa hakikat doa-doa yang dibacakan saat salat,” katanya.

Sebagai contoh, ia menyinggung masih adanya orang yang rajin menjalankan ibadah, termasuk salat dan umrah, namun tetap terjerat kasus korupsi. “Salat dan umrah rajin, tetapi masih kena operasi tangkap tangan (OTT) KPK. Itu tanda salatnya tidak berdampak,” tegasnya.

Hijrah sebagai Gerakan Membangun Peradaban

Menurut Din Syamsuddin, semangat hijrah harus menjadi gerakan perubahan yang melahirkan masyarakat berkarakter, produktif, dan mampu menghadapi berbagai tantangan zaman.

Ia meyakini bahwa dengan perubahan pola pikir, penguatan nilai-nilai spiritual, serta kebersamaan dalam membangun masyarakat, Indonesia dapat mewujudkan peradaban yang maju, tidak hanya untuk kepentingan dunia, tetapi juga sebagai bekal menuju kehidupan akhirat. (*)

Bagikan Tulisan Ini