Bagi keluarga siswa, pola pendidikan tersebut turut mengurangi kebutuhan yang harus dipenuhi orang tua selama anak mengikuti pendidikan.
Kebutuhan makan, pakaian dan perlengkapan belajar menjadi bagian dari fasilitas yang disediakan melalui program sekolah.
Salah seorang orang tua siswa, Agustina B, mengaku bersyukur hadirnya SRT karena berbagai kebutuhan anaknya telah terpenuhi tanpa membebani orang tua.
“Di luar prediksi kami, kebutuhan sudah lengkap. Jadi saya tidak pusing lagi memikirkan keperluan sekolah anak saya,” ujarnya.
Kehadiran 90 siswa dari Luwu Utara, juga memperluas cakupan layanan SRT 62 di Tana Toraja. Mereka tinggal dan belajar bersama 330 siswa asal Tana Toraja dalam satu lingkungan pendidikan berasrama.
Salah satu siswa SD, Adi, mengaku senang belajar di SRT karena kebutuhan sehari-harinya terpenuhi dan jadwal belajar telah diatur.
“Saya senang bisa belajar dengan tenang, walaupun jauh dari keluarga. Ada guru yang membimbing dan mengasuh,” kata Adi.
Pembangunan SRT 62 dibiayai anggaran sekitar Rp241,3 miliar yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2025/2026.
Pembangunan dikerjakan Waskita–FYP KSO sebagai kontraktor pelaksana dan PT Agrinas Pangan Nusantara–PT Antariksa Globalindo KSO sebagai konsultan pengawas.
Hingga akhir September 2026, pembangunan gedung SRT tersebut belum seluruhnya rampung. (*)









