Kunjungan ini sekaligus menjadi momentum mempererat kolaborasi antara pemerintah, sekolah, dan masyarakat dalam mengembangkan pertanian perkotaan yang produktif dan ramah lingkungan.
Lokasi urban farming berada di samping gedung sekolah. Tampak siswa-siswi ikut bersama-sama misalnya pemanfaatan barang bekas, menggunakan botol plastik, pipa, atau galon air mineral bekas sebagai media tanam hidroponik maupun pot gantung.
Selain itu, ada penanaman tanaman produktif seperti menanam sayuran cepat panen (seperti kangkung, pakcoy, dan bayam), tanaman obat keluarga (toga), atau cabai.
Ada juga siswa lain yang mengelola sampah organik dari lingkungan sekolah atau sisa makanan kantin menjadi pupuk kompos untuk menyuburkan tanaman.
Sedangkan perawatan tanaman lainnya terlihat ketika siswa secara bergantian menyiram, memupuk, mengamati pertumbuhan, hingga ada yang memanen hasil tanaman mereka, untuk disajikan bagi tamu yang datang. (*)









