BANYUMAS, KYAIMENTERI.ID — SMA Ma’arif NU 1 Ajibarang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, menjadi salah satu sekolah swasta yang ditunjuk pemerintah untuk menerima siswa repatriasi dari Sabah, Malaysia.
Sejak program tersebut berjalan pada 2019, sekolah telah mendidik 13 siswa yang merupakan anak pekerja migran Indonesia di Sabah.
“Sejak 2019, kami pertama kali memperoleh tiga siswa. Sampai sekarang kami ada 13 siswa dari Sabah,” ujar Kepala SMA Ma’arif NU 1 Ajibarang, Hermanto, saat ditemui, Senin (14/9/2026).
Menurutnya, para siswa merupakan anak pekerja Indonesia yang bekerja di perkebunan kelapa sawit di Sabah. Sebagian besar sebelumnya menempuh pendidikan melalui Community Learning Center (CLC) hingga jenjang setara SMP.
Keterbatasan akses pendidikan menjadi salah satu alasan mereka mengikuti program repatriasi untuk melanjutkan pendidikan di Indonesia.
Di SMA Ma’arif NU 1 Ajibarang, para siswa tidak hanya mengikuti pendidikan akademik dan kejuruan, tetapi juga tinggal di asrama atau Islamic boarding school di lingkungan sekolah.
Keberadaan asrama memudahkan sekolah memberikan pendampingan, mulai dari pembinaan agama, tata krama, dan sopan santun hingga keterlibatan dalam berbagai kegiatan sekolah.
Dari 13 siswa repatriasi tersebut, sembilan di antaranya perempuan dan empat laki-laki. Mereka juga diberi kesempatan untuk berbaur dan aktif dalam berbagai kegiatan sekolah.
Hermanto mengatakan keterlibatan siswa repatriasi dalam kegiatan sekolah menjadi bagian dari pembentukan karakter. Sekolah tidak hanya menargetkan mereka memperoleh ijazah, tetapi juga memiliki keterampilan dan karakter untuk dapat berkontribusi di masyarakat.
“Harapannya mereka bisa menjadi sarjana, menjadi siswa yang mumpuni, bisa langsung terjun di masyarakat dan berguna di masyarakat,” ujarnya.
Program tersebut juga membuka peluang bagi siswa repatriasi untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Salah satu lulusan sebelumnya bahkan berhasil melanjutkan kuliah di Universitas Negeri Yogyakarta melalui beasiswa program Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM).
Salah satu siswa repatriasi saat ini adalah Muhammad Azlan, siswa kelas XII asal Sabah. Kedua orang tuanya masih berada di Sabah. Ayahnya bekerja sebagai buruh, sedangkan ibunya merupakan ibu rumah tangga.
Azlan mengatakan pengalaman belajar di Indonesia berbeda dengan pendidikan yang pernah dijalaninya di Sabah. Menurutnya, pembelajaran di Indonesia lebih padat dan detail.
“Kalau di Indonesia itu lebih detail, lebih jelas,” kata Azlan.
Sebelumnya, Azlan mengikuti seleksi program ADEM. Dari sekitar 1.000 peserta, sebagian mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan di Indonesia. Empat siswa kemudian diterima di SMA Ma’arif NU 1 Ajibarang.
Selama bersekolah, Azlan aktif mengikuti kegiatan Pramuka dan pencak silat Pagar Nusa. Tahun ini, ia dipercaya menjadi Ketua Pradana atau pemimpin Pramuka. (*)









