Dari Sampah Rumah, Murid SDIT Tamaddun Kota Cilegon Belajar Peduli Lingkungan

Penulis: Ahmad Herdi | Editor: Syaifudin
Siswa SDIT Tamaddun Kota Cilegon memilah dan mengumpulkan sampah anorganik dalam program Tabungan Sampah. Kegiatan ini menjadi cara sederhana sekolah menanamkan kepedulian lingkungan sekaligus mengenalkan nilai ekonomi sampah kepada siswa sejak dini. (Dokumentasi SDIT Tamaddun Kota Cilegon)

CILEGON, KYAIMENTERI.ID – Sampah anorganik yang biasanya berakhir di tempat pembuangan mulai dikenalkan sebagai sesuatu yang memiliki manfaat bagi siswa SDIT Tamaddun Kota Cilegon.

Persoalan kebiasaan membuang dan mencampur sampah sejak usia dini menjadi perhatian sekolah untuk membangun kesadaran lingkungan melalui kegiatan yang dekat dengan keseharian anak.

Melalui program Tabungan Sampah, murid diajak membawa sampah anorganik dari rumah setiap Kamis. Kertas, koran, kardus, botol plastik hingga galon bekas kemudian dipilah dan dikumpulkan di gudang sekolah.

Tidak Hanya Teori, Tapi Jadi Kebiasaan Murid

Kepala SDIT Tamaddun, Muslihat, mengatakan program tersebut dirancang agar kepedulian terhadap lingkungan tidak hanya disampaikan melalui teori, tetapi langsung menjadi kebiasaan murid.

“Anak-anak belajar bahwa sampah yang selama ini dianggap tidak berguna ternyata masih bisa dimanfaatkan. Dari situ mereka belajar memilah sekaligus belajar menabung,” kata Muslihat.

Sampah yang terkumpul kemudian dijual secara berkala. Hasil penjualan dicatat sebagai tabungan masing-masing murid dan akan diberikan pada akhir tahun.

Dengan pola tersebut, murid dapat melihat secara langsung hasil dari kebiasaan sederhana yang mereka lakukan setiap pekan.

Program ini mulai dikembangkan sejak tahun lalu setelah sekolah mendapat pendampingan dari mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Awalnya Dikenalkan Bank Sampah Berbasis Digital

Awalnya, mahasiswa memperkenalkan konsep bank sampah berbasis digital. Namun, setelah mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan murid, sekolah memilih sistem yang lebih sederhana.

Menurut Muslihat, pendekatan sederhana justru membuat program lebih mudah diterapkan dan diikuti seluruh murid.

Mereka tidak hanya belajar mengenai kebersihan, tetapi juga memahami bahwa pengelolaan sampah dapat memberikan nilai ekonomi.

Edukasi lingkungan di SDIT Tamaddun juga diperkuat melalui kerja sama dengan Poliran Polda Banten.

Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas pemahaman siswa mengenai pentingnya menjaga lingkungan dan mengelola sampah secara bertanggung jawab.

Miliki Kebiasaan Menjaga Lingkungan

Muslihat berharap kebiasaan yang dibangun di sekolah dapat terbawa hingga ke rumah.

Murid diharapkan mampu mengajak orang tua dan anggota keluarga untuk mulai memilah sampah dari sumbernya.

“Tujuan utamanya bukan berapa besar uang yang terkumpul, tetapi bagaimana anak-anak sejak kecil memiliki kebiasaan menjaga lingkungan. Kalau kebiasaan itu terbawa sampai rumah, dampaknya tentu lebih besar,” ujarnya. (*)

 

Bagikan Tulisan Ini