Merajut Rumah Bersama: Menguji Vitalitas Pancasila

Penulis: Luhur Susilo | Editor: Syaifudin
Mengamalkan Pancasila berarti berani mengesampingkan kepentingan pribadi demi kemaslahatan publik.

Ia menuntut kejujuran para pejabat, keadilan para penegak hukum, serta dedikasi nyata dari seluruh elemen masyarakat.

Rumah bersama bernama Indonesia ini terlalu berharga jika dibiarkan lapuk oleh korupsi dan intoleransi. Kita memerlukan komitmen bersama untuk merawat setiap sudut bangunan republik ini dengan penuh tanggung jawab.

Mari kita wujudkan Pancasila dalam tindakan nyata, bukan sekadar retorika di panggung politik. Mulai dari ruang kelas yang inklusif hingga kebijakan publik yang berpihak pada kesejahteraan rakyat.

Hanya dengan cara itulah kita dapat menyongsong masa depan Indonesia yang benar-benar berdaulat, adil, dan makmur. Pancasila akan terus hidup selama kita bersedia menjadikannya kompas navigasi berbangsa.(*)

Referensi Teoretis Penguat (Daftar Pustaka)

Durkheim, Émile. (1893). The Division of Labour in Society. (Teori Solidaritas Mekanis dan Organik).

Putnam, Robert D. (2000). Bowling Alone: The Collapse and Revival of American Community. New York: Simon & Schuster. (Teori Modal Sosial / Bridging Social Capital).

Rawls, John. (1971). A Theory of Justice. Cambridge: Harvard University Press. (Konsep Justice as Fairness & Difference Principle).

Schultz, Theodore W. (1961). “Investment in Human Capital”. The American Economic Review, 51(1), 1-17. (Teori Modal Manusia / Human Capital).

Weiner, Myron. (1965). “Political Integration and Political Development”. The Annals of the American Academy of Political and Social Science, 358(1), 52-64. (Teori Integrasi Nasional Vertikal & Horizontal).

Bagikan Tulisan Ini