Merajut Rumah Bersama: Menguji Vitalitas Pancasila

Penulis: Luhur Susilo | Editor: Syaifudin
Mengamalkan Pancasila berarti berani mengesampingkan kepentingan pribadi demi kemaslahatan publik.

Oleh:  Luhur Susilo – Matra Satupena Blora

Di sudut-sudut ruang kelas dan kantor pelayanan publik, lambang Garuda Pancasila tergantung anggun. Namun, sebuah ideologi negara tidak pernah dirancang untuk sekadar menjadi hiasan dinding yang bisu dan berdebu.

Pancasila adalah entitas hidup yang terus diuji oleh gelombang zaman. Ketika polarisasi sosial dan fragmentasi digital kian meruncing, kita dituntut menguji kembali sejauh mana Pancasila benar-benar hadir menuntun arah bangsa.

Gagasan menempatkan Pancasila sebagai “rumah bersama” bukanlah sekadar romantisme historis. Ia merupakan imperatif sosiologis dan politik agar republik yang sangat majemuk ini tidak retak dihantam benturan kepentingan egois.

Masa depan Indonesia sangat bergantung pada keberanian kita membumikan nilai-nilai luhur tersebut. Untuk itu, vitalitas Pancasila perlu dibedah melalui kacamata teoretis agar argumentasi kebangsaan kita memiliki pijakan akademik yang kokoh.

Dalam kajian ilmu politik, pilar utama keberlanjutan suatu bangsa adalah konsensus integrasi. Ilmuwan politik Myron Weiner menegaskan bahwa integrasi nasional merupakan prasyarat mutlak bagi terciptanya stabilitas politik dan pembangunan ekonomi.

Weiner membagi integrasi ke dalam dimensi vertikal dan horizontal. Pancasila bekerja secara efektif pada kedua dimensi tersebut, menjembatani elite dengan rakyat serta merekatkan keberagaman suku, agama, dan budaya.

Sebagai negara kepulauan dengan ribuan etnis, potensi konflik horizontal selalu mengintai. Tanpa kesepakatan nilai bersama, ikatan kebangsaan akan mudah rapuh ketika dihadapkan pada benturan identitas dan gesekan kepentingan politik praktis.

Sosiolog Émile Durkheim dalam teorinya tentang pembagian kerja menjelaskan transisi masyarakat. Ia menyebutkan bahwa masyarakat modern yang kompleks diikat oleh bentuk solidaritas baru yang disebut sebagai solidaritas organik.

Masyarakat Indonesia tidak lagi hanya diikat oleh kesamaan tradisi lokal secara mekanis. Ketergantungan antarwilayah dan antarsektor dalam perekonomian modern membutuhkan fondasi etis, dan Pancasila menyediakan ruang perekat solidaritas organik tersebut.

Kedaulatan dan ketahanan bangsa juga sangat ditentukan oleh kekuatan modal sosial warganya. Ilmuwan politik Robert Putnam mendefinisikan modal sosial sebagai jaringan, norma, dan kepercayaan yang memfasilitasi koordinasi dan kerja sama.

Bagikan Tulisan Ini