Jauhkan Anak dari Gawai, Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto Hidupkan 38 Permainan Tradisional

Penulis: Kusworo | Editor: Budi Supriyantoro
Murid Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto bermain permainan tradisional secara berkelompok dalam rangkaian Edu Expo dan Milad ke-112 Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto di Sport Center, Minggu (6/9/2026). Kegiatan tersebut menjadi upaya mengenalkan kembali permainan tradisional kepada generasi muda.

PURWOKERTO, KYAIMENTERI.ID — Anak-anak biasanya lekat dengan layar gawai. Namun, suasana berbeda terlihat dalam Festival Permainan Tradisional yang digelar keluarga besar Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto di Sport Center, Minggu (6/9/2026).

Para siswa dari jenjang SD, SMP hingga SMA diajak meninggalkan sejenak gawai dan kembali menikmati permainan tradisional. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Edu Expo dan Milad ke-112 Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto 2026.

Beragam permainan tradisional diperkenalkan dan dimainkan secara langsung oleh para siswa. Tahun ini, panitia menghadirkan konsep permainan yang dapat dilakukan tanpa membutuhkan peralatan khusus.

Ketua Panitia Edu Expo dan Milad ke-112 Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto 2026, Imalia Din Indriasih, mengatakan permainan tradisional kembali diangkat sebagai salah satu ikon kegiatan yang telah digelar selama tiga tahun terakhir.

Menurut Imalia, festival tersebut bukan sekadar hiburan. Kegiatan ini menjadi upaya mengenalkan kembali permainan tradisional yang mulai ditinggalkan di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.

“Semangat yang ingin kami usung adalah membuat siswa-siswi maupun keluarga besar Al Irsyad tidak tergantung ketika bermain menggunakan gadget,” ujar Imalia saat ditemui di acara festival.

Ia menjelaskan, konsep festival tahun ini berbeda dengan dua penyelenggaraan sebelumnya. Jika sebelumnya sejumlah permainan masih menggunakan alat bantu, namun tahun ini panitia memilih permainan yang dapat dilakukan tanpa perlengkapan.

Dengan demikian, permainan tersebut diharapkan dapat dimainkan di mana saja dan kapan saja.

“Semua permainan ini membuat kita kembali bernostalgia pada masa kecil. Anak-anak sekarang banyak yang tidak tahu permainan yang dulu dimainkan oleh orang tua mereka ketika kecil,” katanya.

Tidak hanya mengenalkan permainan, panitia juga menjadikan festival sebagai sarana edukasi budaya. Sebanyak 38 nama permainan tradisional diperkenalkan untuk merepresentasikan 38 provinsi di Indonesia.

Imalia mengatakan, beberapa permainan memiliki bentuk serupa, tetapi menggunakan nama berbeda di setiap daerah.

“Nama-nama permainan itu diperkenalkan dan disosialisasikan kepada siswa. Nanti ada tim OSIS dari SMA IT yang menerangkan bagaimana cara bermainnya, namanya apa, serta di daerah lain apakah ada permainan yang sama dengan nama berbeda,” jelasnya.

Salah seorang siswa Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto, Fala, mengaku senang mengikuti festival tersebut. Ia salah satunya mencoba permainan kucing-kucingan bersama teman-temannya.

“Seru,” kata Fala.

Dalam permainan itu, para siswa bermain secara berkelompok. Mereka harus bekerja sama agar pemain yang berperan sebagai “kucing” tidak dapat masuk dan menangkap “tikus”.

Fala juga mencoba sejumlah permainan lainnya. Ia mengaku sebagian permainan yang dimainkan dalam festival belum pernah ia temui atau mainkan di rumah.

“Enggak pernah bermain di rumah. Baru tahu sekarang,” ujarnya.

Dorong Anak Lebih Banyak Bergerak

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, Widodo Sugiri, mengapresiasi langkah Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto menghidupkan kembali permainan tradisional di lingkungan sekolah.

Menurutnya, permainan tradisional memiliki nilai penting karena mendorong anak lebih banyak bergerak dan berinteraksi langsung dengan teman-temannya.

“Ini adalah hal yang luar biasa ketika anak-anak sudah terbiasa menggunakan gadget dan tidak banyak bergerak. Mengembalikan permainan tradisional seperti yang dilakukan Al Irsyad adalah hal yang luar biasa,” kata Widodo.

Ia menilai kegiatan tersebut menunjukkan kepedulian terhadap penguatan akar budaya dalam pendidikan. Menurutnya, pendidikan tidak cukup hanya membentuk anak yang unggul secara akademik, tetapi juga perlu membuat mereka memahami budaya yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

“Anak-anak tidak dididik hanya menjadi pintar, tetapi diharapkan mengerti akan latar belakang budayanya,” ujarnya.

Widodo juga menilai pengenalan permainan tradisional menjadi cara konkret untuk mendekatkan generasi muda dengan budaya yang semakin jarang ditemui.

“Sekarang nama-nama permainan tradisional saja kita sudah banyak yang tidak pernah mendengar kembali. Ini menjadi bukti bahwa Al Irsyad dengan milad ke-112, di samping bergerak di bidang pendidikan, dakwah dan sosial, ternyata juga bergerak di bidang budaya,” katanya.

Menurut Widodo, pelestarian permainan tradisional melalui sekolah memiliki nilai strategis. Anak-anak tidak hanya menjadi penonton, tetapi terlibat langsung sebagai pelaku yang mengenal, memainkan, dan berpotensi meneruskannya kepada generasi berikutnya.

Festival tersebut akhirnya menjadi ruang pertemuan antara pendidikan, kebersamaan, dan pelestarian budaya. Para siswa diajak sejenak menjauh dari layar gawai dan menikmati permainan yang mengandalkan gerak tubuh, komunikasi, kerja sama, serta interaksi sosial.

Langkah Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto ini diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Lebih jauh, festival tersebut diharapkan mampu menumbuhkan kembali minat generasi muda terhadap permainan tradisional sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia. (*)

Bagikan Tulisan Ini