JAKARTA, KYAIMENTERI.ID – Guru Besar FISIP Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Din Syamsuddin, mengajak seluruh masyarakat menjadikan semangat hijrah sebagai momentum membangun budaya baru demi mewujudkan Indonesia yang merdeka dan maju. Menurutnya, perubahan bangsa harus dimulai dari perubahan karakter dan budaya masyarakat yang lebih berorientasi pada kemajuan.
Pesan ini disampaikan Din Syamsuddin saat menyampaikan ceramah dalam Tausiah Muharam 1448 Hijriah bertema “Hijrah untuk Indonesia Maju” di Masjid Baitut Tholibin, Kantor Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Senin (6/7). Acara tersebut dihadiri Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti dan Wakilnya Fajar Riza Ul Haq, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto, serta Menteri Kebudayaan Fadli Zon.
Dalam tausiahnya, Din mengutip hadis yang berbunyi, “Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia termasuk orang yang beruntung. Barangsiapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia termasuk orang yang merugi. Dan barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka ia termasuk orang yang celaka.”
Menurut Din, hadis tersebut menjadi landasan penting untuk terus melakukan perubahan ke arah yang lebih baik.
“Ini yang harus menjadi budaya kita. Saya istilahkan budaya merdeka dan maju. Ini yang harus kita cita-citakan. Paling tidak ada sepuluh, yang saya istilahkan Dasa Cita Budaya Merdeka-Maju,” ujar mantan Ketum PP Muhammadiyah dua periode tersebut
Din kemudian memaparkan sepuluh budaya yang harus dibangun bangsa Indonesia. Pertama, meninggalkan kebiasaan mementingkan diri sendiri maupun kelompok menuju budaya yang mengutamakan kepentingan umum dan kepentingan bangsa yang lebih luas.
Kedua, keluar dari sikap merasa paling benar menuju masyarakat yang toleran dan menghargai perbedaan. “Ini saya kira penting untuk menjadi budaya bangsa Indonesia,” tegasnya.
Ketiga, meninggalkan feodalisme dan primordialisme menuju budaya yang egaliter, yakni memperlakukan seluruh anak bangsa secara setara. Keempat, meninggalkan budaya nepotisme dan mengedepankan sistem meritokrasi yang menghargai prestasi.
Kelima, membangun budaya apresiasi terhadap karya dan usaha orang lain, bukan sekadar mencela. Din menyoroti maraknya konten negatif di media sosial yang dipenuhi penghinaan dan penistaan. “Luar biasa media sosial kita saat ini, miris hati ini melihat video-videonya. Penghinaan, penistaan,” katanya.
Selanjutnya, ia mengajak masyarakat membebaskan diri dari gaya hidup yang hanya mengejar kesenangan jasmani, termasuk penyalahgunaan narkoba. Din juga mendorong budaya penyelesaian masalah melalui akal sehat dan dialog, bukan kekerasan.
Selain itu, ia menekankan pentingnya meninggalkan budaya korupsi dengan membangun etos kerja, prestasi, dan karya yang lahir dari hasil usaha sendiri.
Din juga mengajak bangsa Indonesia mengurangi ketergantungan kepada negara lain dengan memperkuat kemandirian nasional melalui kerja sama internasional yang adil dan saling menguntungkan.
Ia menambahkan, bangsa Indonesia juga harus meninggalkan rasa rendah diri dalam pergaulan internasional dan tampil sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia.
Sebagai penutup, Din mengingatkan pentingnya menyeimbangkan kehidupan dunia dan akhirat melalui pengamalan ajaran agama yang tidak berhenti pada spiritualitas pasif, tetapi melahirkan semangat kerja, daya saing, produktivitas, serta kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa. “Ini refleksi dari Ketuhanan Yang Maha Esa,” pungkasnya. (*)









