Kondisi geografis Talaga Puncak membuat pendekatan pelayanan tidak dapat semata-mata didasarkan pada jumlah penerima manfaat, tetapi juga harus mempertimbangkan tingkat kesulitan akses serta kebutuhan masyarakat.
“Jumlah penerima manfaat bukan ukuran untuk membedakan kualitas pelayanan. SPPG ini justru harus mampu menjadi contoh pelayanan terbaik, mulai dari pemilihan bahan pangan, proses pengolahan, pengujian makanan, pemorsian, hingga distribusi kepada penerima manfaat,” tegas Mariman.
Lokasi SPPG yang lebih dekat dengan sekolah dan masyarakat penerima manfaat juga diharapkan membuat proses produksi dan distribusi makanan menjadi lebih efektif.
Waktu tempuh yang lebih singkat menjadi faktor penting dalam menjaga mutu makanan dan memastikan makanan diterima dalam kondisi aman untuk dikonsumsi.
Selain memenuhi kebutuhan gizi, program MBG juga diarahkan menjadi bagian dari proses edukasi dan pembentukan karakter di satuan pendidikan.
Guru memiliki peran penting dalam membangun kebiasaan baik pada saat makan bersama, mulai dari membiasakan cuci tangan, tertib mengantre, berdoa sebelum dan sesudah makan, menjaga kebersihan, hingga memberikan edukasi mengenai gizi dan keamanan pangan.
Dengan demikian, Program MBG tidak hanya menghadirkan makanan bergizi, tetapi juga menjadi sarana untuk meningkatkan literasi gizi, membangun perilaku hidup bersih dan sehat, serta menanamkan karakter positif kepada peserta didik sejak dini.
Wakil Gubernur Maluku Utara, H. Sarbin Sehe, dalam kesempatan tersebut menyampaikan, perbaikan gizi merupakan investasi jangka panjang bagi pembangunan sumber daya manusia. Menurutnya, karakteristik
Maluku Utara sebagai wilayah kepulauan membutuhkan perhatian dan pendekatan khusus agar pelayanan MBG dapat menjangkau masyarakat secara lebih merata.









