SLEMAN, KYAIMENTERI.ID — Komunitas Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa membuka Sekolah Agama Leluhur (SAL) Daerah Istimewa Yogyakarta 2026.
Kegiatan ini sebagai ruang belajar untuk merawat alam, memperkuat kemandirian masyarakat, dan mewariskan nilai-nilai kearifan lokal kepada generasi muda.
Pelatihan berlangsung selama tiga hari mulai Jumat hingga Minggu, 21–23 Agustus 2026, berpusat di wilayah Seyegan, Kabupaten Sleman, DIY.
Mengusung tema “Marti Bumi, Ngulawentah Generasi”, SAL 2026 hadir sebagai ruang belajar bersama untuk menggali nilai-nilai kearifan lokal nusantara.
Rangkaian acara dibuka dengan tembang Mocopat oleh Laskar Tani dan persembahan tarian dari Sanggar Srijayanti-Sri Tumuwuh.
Kegiatan ini diinisiasi oleh kelompok Sri Tumuwuh bekerja sama dengan Center for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS) UGM, Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS), serta didukung penuh oleh Direktorat Bina Kepercayaan terhadap Tuhan YME dan Masyarakat Adat (BKMA).
Menautkan Kesadaran Spiritual dengan Aksi
Direktur Bina Kepercayaan terhadap Tuhan YME dan Masyarakat Adat Kementerian Kebudayaan RI, Sjamsul Hadi, S.H., M.M., menegaskan bahwa Sekolah Agama Leluhur menjadi sarana penting untuk mengenali kembali ajaran para leluhur yang berfokus pada keselarasan hidup.
Menurutnya, ajaran spiritualitas nusantara mendasarkan pada filosofi Sangkan Paraning Dumadi serta kewajiban moral Memayu Hayuning Bawana, menjaga harmoni antar sesama dan terhadap alam semesta.
“Isu ketahanan pangan dan pengelolaan lingkungan adalah hal yang sangat strategis,” tegas Sjamsul Hadi.
Menurutnya melalui Sekolah Agama Leluhur ini, nilai-nilai yang dipelajari diharapkan tidak berhenti pada tataran diskusi internal \, melainkan diwujudkan dalam gerakan praktis di lapangan.
Ia mengapresiasi kolaborasi antarpenggerak budaya, akademisi, dan pemerintah tingkat kelurahan hingga kecamatan.
Pihaknya mendorong agar kurikulum dan praktik kearifan lokal, seperti ruwat sumber air, penghijauan, hingga pola pertanian ramah lingkungan, dapat dikemas secara konkrit sehingga bisa direplikasi di berbagai wilayah seperti DIY dan Jawa Tengah.
Sri Tumuwuh: Buah Kebaikan dari Lahan Bertumbuh
Ketua Majelis Luhur Kepercayaan Terhadap Tuhan YME Indonesia (MLKI) DIY, Drs. Bambang Purnomo, S.E., M.Si., mengapresiasi konsistensi gerakan bertumbuhnya wadah-wadah produktif warga penghayat.
Ia menyoroti rekam jejak lahirnya komunitas Sri Tumuwuh yang berawal dari dukungan penyediaan lahan dan fasilitasi pendidikan oleh CRCS UGM bagi para generasi penghayat.
“Dari sekolah pertama dan ruang belajar yang ada, generasi penghayat mampu menghasilkan buah yang baik melalui pembentukan kelompok-kelompok kerja, mulai dari sektor pertanian, peternakan, pembuat jamu, UMKM, hingga industri kreatif,” tutup Bambang Purnomo.









