PURWOKERTO, KYAIMENTERI.ID – Pembelajaran anak tunarungu membutuhkan pendekatan yang berbeda. Di SLBB Yakut Purwokerto, guru memadukan bahasa isyarat dengan gambar, benda konkret, video, hingga teknologi interaktif.
Kepala SLBB Yakut Purwokerto, Wiwi Kusmiati mengatakan cara tersebut diterapkan untuk membantu siswa menerima informasi melalui kekuatan visual. Materi tidak cukup disampaikan lewat penjelasan lisan, tetapi perlu diperlihatkan secara langsung.
“Kalau mengajar anak tunarungu itu harus ada medianya. Bisa media bergambar, video, atau visual,” kata Wiwi, Senin (21/9/2026)
Menurut Wiwi, setiap guru harus mampu menggunakan bahasa isyarat. Guru juga perlu menyesuaikan metode dengan karakter dan kemampuan masing-masing peserta didik.
Saat mengenalkan benda, misalnya bola, guru tidak hanya menyebutkan namanya. Bola diperlihatkan kepada siswa. Nama benda juga ditulis dan diucapkan. Dengan begitu, anak memperoleh informasi melalui pengalaman yang lebih konkret dan visual.
Untuk mendukung pembelajaran, sekolah telah memiliki sejumlah perangkat teknologi. Di antaranya LCD, televisi, dan papan interaktif. Fasilitas tersebut digunakan secara bergantian sesuai kebutuhan kelas.
Papan interaktif berukuran besar juga telah dimanfaatkan dalam kegiatan belajar. Karena ukurannya cukup besar, perangkat ditempatkan di kelas tertentu dan digunakan secara bergantian.
“Kalau mau mengakses apa pun sudah tersedia. Itu sudah sangat membantu pembelajaran,” ujar Wiwi.
Meski fasilitas teknologi semakin tersedia, sekolah tetap melakukan pembenahan. Perangkat dan media pembelajaran perlu diperbarui secara berkala agar tetap sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
SLBB Yakut Purwokerto telah berdiri sejak 1961. Wiwi telah mengajar di sekolah tersebut sekitar 13 tahun. Sekitar enam bulan terakhir, dia dipercaya menjalankan tugas sebagai kepala sekolah.
Dukungan orang tua juga menjadi bagian penting dalam proses pendidikan. Sekolah menjaga komunikasi melalui grup WhatsApp dan pertemuan rutin. Pertemuan bersama orang tua secara menyeluruh dilakukan sedikitnya dua kali dalam sebulan.
Komunikasi wali kelas dengan orang tua juga dapat berlangsung lebih intensif. Terutama ketika ada kebutuhan khusus terkait perkembangan anak.
“Hubungan sekolah dengan orang tua sangat baik,” kata Wiwi.
Tantangan pembelajaran biasanya muncul saat peserta didik baru mulai bersekolah.
Sebagian anak masih membutuhkan pendampingan untuk menguasai kemampuan dasar. Mulai dari duduk, mengenali diri, hingga membaca dan menulis.
Proses tersebut dilakukan secara bertahap. Guru tidak langsung mengejar kemampuan akademik sebelum anak menguasai keterampilan dasar.
Wiwi menggambarkan proses itu seperti mengajarkan anak berjalan. Kemampuan dasar menjadi pijakan sebelum masuk ke tahap pembelajaran berikutnya.
“Yang pertama kita ajarkan adalah duduk dulu. Ketika anak sudah bisa duduk dan memahami, insyaallah nanti bisa progres,” ujarnya.
Pendampingan secara intensif menunjukkan hasil yang berbeda pada setiap anak. Berdasarkan pengalaman Wiwi, ada peserta didik yang mulai mampu membaca dan menulis dalam waktu sekitar tiga bulan.









