Rapor Merah Jadi Peringatan, SMKN 1 Kramatwatu Dongkrak Literasi-Numerasi Lewat Balitnum

Penulis: Ahmad Herdi | Editor: Budi Supriyantoro
Siswa SMKN 1 Kramatwatu, Kabupaten Serang, mengikuti kegiatan Budaya Asyik Literasi Numerasi (Balitnum) pada Kamis (6/8/2026). Program ini menjadi bagian dari upaya sekolah memperbaiki kemampuan literasi dan numerasi siswa setelah sebelumnya berada pada kategori merah [foto/ist.]

SERANG, KYAIMENTERI.ID – Rapor Pendidikan 2024 menjadi peringatan bagi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Kramatwatu, Kabupaten Serang. Capaian literasi dan numerasi siswa yang masih berada pada kategori merah mendorong sekolah untuk tidak sekadar mengejar perbaikan angka, tetapi membangun kebiasaan belajar yang membuat siswa lebih mampu membaca, memahami informasi, bernalar dengan angka, hingga menemukan solusi atas berbagai persoalan. Langkah itu diwujudkan melalui program Budaya Asyik Literasi Numerasi (Balitnum), yang dikembangkan dari program sebelumnya, Budaya Asyik Literasi dan Oke Numerasi (Balon).

Kepala SMKN 1 Kramatwatu, Hikmatulloh mengatakan perubahan tidak bisa dilakukan hanya dengan mengejar nilai. Tapi siswa perlu dibiasakan berhadapan langsung dengan bacaan, persoalan, serta latihan bernalar dalam suasana pembelajaran yang tidak membuat mereka merasa terbebani.

“Dua tahun lalu Rapor Pendidikan kami masih merah, terutama pada aspek literasi dan numerasi. Karena itu kami melakukan pembenahan melalui program Balon yang kemudian menjadi Balitnum. Setelah dijalankan pada 2025, capaian kami sudah naik menjadi kuning dan sebagian indikator sudah hijau,” ujarnya saat ditemui di kantornya. Senin (10/8/2026).

Ia menjelaskan Balitnum dilaksanakan secara rutin setiap Selasa, Rabu, dan Kamis. Siswa kelas X dan XI dibagi dalam kelompok-kelompok kecil dengan jumlah maksimal 12 peserta didik dan didampingi guru wali. Materi meliputi Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika yang menjadi mata pelajaran dasar yang digunakan untuk melatih kemampuan siswa memahami informasi, menyampaikan gagasan, melakukan perhitungan, hingga memecahkan masalah.

Hikmatulloh menambahkan suasana belajar pun dibuat berbeda. Para murid mengikuti diskusi dalam kelompok kecil dengan konsep lesehan sehingga komunikasi antara guru dan peserta didik berlangsung lebih cair. Pola tersebut diharapkan membuat siswa lebih berani bertanya, menyampaikan pendapat, serta mencoba menyelesaikan persoalan.

Selain Balitnum, jelasnya sekolah juga mengembangkan sejumlah kegiatan pendukung, di antaranya inkubator kewirausahaan dan Kelas Cerdas Entrepreneurship (KCE). Kegiatan tersebut diarahkan untuk melatih cara berpikir kritis, kreativitas, pengambilan keputusan, serta kemampuan memecahkan masalah.

Sementara Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMKN 1 Kramatwatu, Nani Hastuti, mengatakan tantangan lain yang dihadapi sekolah adalah membuat materi pembelajaran yang mampu menarik perhatian siswa.

Karena itu, lanjutnya guru tidak hanya menggunakan bahan ajar yang tersedia, tetapi menyusun modul sendiri berdasarkan kebutuhan peserta didik. Teknologi kecerdasan buatan juga mulai dimanfaatkan untuk membantu guru membuat materi yang lebih variatif dan interaktif.

“Awalnya kemampuan literasi dan numerasi siswa memang masih rendah sehingga nilai kami merah. Sekarang sudah meningkat menjadi kuning dan kami optimistis bisa mencapai hijau. Modul dibuat sendiri oleh guru dengan tampilan yang lebih menarik, termasuk memanfaatkan AI seperti Gemini agar pembelajaran lebih menyenangkan,” katanya.

Bagi SMKN 1 Kramatwatu, peningkatan dari merah menjadi kuning bukanlah akhir. Capaian tersebut justru menjadi pijakan untuk mengejar target yang lebih tinggi, yakni semakin banyak indikator Rapor Pendidikan masuk kategori hijau.

Penguatan literasi dan numerasi juga dinilai penting karena kedua kemampuan tersebut menjadi bagian dari kompetensi dasar yang dibutuhkan siswa untuk melanjutkan pendidikan maupun memasuki dunia kerja.

Dengan tiga kompetensi keahlian yang dimiliki, yakni Teknik Ketenagalistrikan, Teknik Otomotif, serta Manajemen Perkantoran dan Layanan Bisnis, sekolah berharap kebiasaan membaca, memahami informasi, dan bernalar yang dibangun melalui Balitnum dapat ikut membentuk lulusan yang lebih siap menghadapi tuntutan dunia kerja dan pendidikan tinggi.

Perubahan itu kini tidak lagi hanya diukur dari warna rapor. Bagi sekolah, keberhasilan Balitnum juga diharapkan terlihat dari perubahan kebiasaan siswa, lebih berani membaca, lebih mampu memahami persoalan, dan tidak mudah menyerah ketika berhadapan dengan soal yang membutuhkan penalaran. (*)

 

Bagikan Tulisan Ini