PP Muhammadiyah Tegaskan Dukungan Penuh Terhadap Pemberantasan Kejahatan Luar Biasa

Penulis: Abdurrahman Syafrianto | Editor: Syaifudin
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, bersama sejumlah pejabat menghadiri Pembukaan Muktamar XVI Tapak Suci Putera Muhammadiyah di Simpang Lima, Semarang, Sabtu (8/8/2026). (Foto: Istimewa)

SEMARANG, KYAIMENTERI.ID — Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menyuarakan dukungan penuh terhadap langkah-langkah tegas aparat penegak hukum, khususnya Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) dan lembaga terkait, dalam upaya memberantas kejahatan luar biasa atau extraordinary crime seperti korupsi.

Hal tersebut ditegaskan oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. KH. Haedar Nashir, pada acara Pembukaan Muktamar XVI Tapak Suci Putera Muhammadiyah di Simpang Lima, Semarang, Sabtu (8/8/2026).

Korupsi Adalah Manifestasi Kerusakan Mental

Dalam pandangannya, Haedar menilai bahwa praktik korupsi bukan sekadar pelanggaran hukum administrasi atau keuangan semata, melainkan manifestasi dari kerusakan mental dan kebangkrutan moral seseorang.

“Korupsi juga termasuk bentuk dari kesakitan jiwa. Bentuk dari jiwa yang buruk yang tidak qolbun salim (hati yang bersih). Maka pemberantasan korupsi harus menjadi bagian dari usaha bersama kita, Polri, dan seluruh institusi negara,” tegas Haedar.

Untuk memperkuat argumentasinya, Haedar membawa ingatan publik pada sejarah pembentukan konstitusi Indonesia dalam sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Indonesia Memiliki Jiwa dan Sukma

Ia mengutip kembali perdebatan filosofis Mr. Soepomo jelang pengesahan konstitusi 18 Agustus 1945, yang menekankan pentingnya membangun jiwa bangsa di atas sekadar pembangunan fisik semata.

“Mr. Soepomo pada forum yang menyiapkan konstitusi menegaskan bahwa Indonesia yang ingin kita merdekakan, Indonesia yang ingin kita bangun, bukan Indonesia ragat disit (raga dahulu), melainkan Indonesia yang juga memiliki jiwa dan sukma,” jelas Haedar.

Haedar menyebutkan bahwa filosofi pendiri bangsa tersebut sangat sejalan dengan lirik lagu kebangsaan Indonesia Raya, yakni “Bangunlah jiwanya, bangunlah raganya”.

Oleh karena itu, Muhammadiyah berkomitmen untuk konsisten berjalan di jalur tersebut bersama institusi pemerintah.

“Di sinilah kita berada di jalan yang lurus dan di jalan yang tepat, sehingga Bersama seluruh institusi pemerintahan, Muhammadiyah konsisten untuk membangun bangsa Indonesia yang sehat jiwa raganya,” ujar Haedar.

Mencakup Penataan Orientasi dan Sikap Sosial

Pembangunan Indonesia, lanjut Haedar, harus mencakup penataan orientasi dan sikap sosial masyarakat yang berlandaskan jiwa gotong royong dan persatuan. Muhammadiyah meyakini bahwa hanya dengan penegakan hukum yang adil dan pembentukan jiwa sosial yang bersih, cita-cita mewujudkan masyarakat Indonesia yang sejahtera, bermartabat, dan berdaulat dapat benar-benar terwujud.

“Termasuk sehat orientasi dan sikap sosialnya, sesuai dengan jiwa gotong royong dan persatuan Indonesia yang menjadi bagian dari jiwa sosial kemasyarakatan bangsa Indonesia,” pungkas Haedar. (*)

 

Bagikan Tulisan Ini