KUBU RAYA, KYAIMENTERI.ID – Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Kalimantan Barat bergerak menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah titik di Kabupaten Kubu Raya.
Respons dilakukan melalui patroli, pemantauan lapangan, asesmen, hingga pemadaman untuk mencegah api meluas ke kawasan permukiman.
Titik kebakaran tersebar di Parit Seruat, kawasan SMA Negeri 4 Sungai Raya, belakang Perumahan Taman Bumi Serdam, TPA Rasau Jaya, serta area sekitar Kantor Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Kubu Raya.
Peristiwa tersebut terjadi dalam beberapa periode, yakni 14 hingga 22 Juli, 25 hingga 30 Juli, dan 4 hingga 6 Agustus 2026.
Wakil Sekretaris MDMC Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Aulia Taarufi mengatakan berdasarkan laporan MDMC, kebakaran menghanguskan kawasan hutan dan semak belukar.
Tidak ada korban meninggal dunia, luka-luka, maupun warga yang dilaporkan hilang. Selain itu, tidak terdapat Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang terdampak.
Menurutnya sejak awal Juli hingga 21 Agustus 2026, MDMC Kalimantan Barat terus memantau wilayah yang berpotensi mengalami perluasan kebakaran. Prioritas penanganan difokuskan pada titik api yang berada di sekitar permukiman penduduk dan fasilitas pendidikan di Kecamatan Sungai Raya.
Dalam operasi tersebut, MDMC berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Kubu Raya, BPBD Kalimantan Barat, TNI-Polri, Manggala Agni, serta relawan pemadam kebakaran setempat.
Tim yang diterjunkan terdiri atas SAR Muhammadiyah LRB-MDMC Kalimantan Barat, Tim Asesmen MDMC, dan kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kota Pontianak.
Selain memadamkan api, mereka juga melakukan pendataan kondisi lapangan dan mengidentifikasi kebutuhan masyarakat maupun relawan.
MDMC mencatat sejumlah kebutuhan mendesak untuk mendukung operasi penanganan karhutla.
Antara lain masker bagi warga terdampak asap, konsumsi dan vitamin untuk relawan, bahan bakar minyak (BBM) bagi kendaraan operasional dan mesin pemadam, peralatan dokumentasi, kendaraan lapangan, serta mesin pemadam berkapasitas besar beserta perlengkapannya.
Di lapangan, relawan masih menghadapi berbagai kendala, terutama keterbatasan kendaraan operasional.
Kendala lainnya seperti kapasitas peralatan pemadam, minimnya alat pelindung diri (APD), serta belum tersedianya kamera drone untuk membantu identifikasi titik api dari udara.
Ia mengatakan saat ini MDMC Kalimantan Barat terus melakukan pemantauan dan penanganan secara terpadu bersama berbagai pemangku kepentingan guna menekan risiko meluasnya karhutla serta melindungi keselamatan masyarakat dan lingkungan.









