KYAIMENTERI.ID – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengungkapkan seorang mahasiswa yang lulus kuliah memiliki kisah dan predikat yang berbeda-beda. Ada yang lulus dengan predikat cumlaude, sangat memuaskan, memuaskan, baik, dan seterusnya.
Tapi, ada cerita lain ketika saya menguji mahasiswa pascasarjana di sebuah kampus ternama. Mahasiswa ini lulus dengan syafaat. Jadi pria yang biasa di sapa Kyai Menteri ini menceritakan kisahnya.
Sang mahasiswa sudah semester 10. Secara peraturan, dia sudah melewati masa studi. Sudah kadaluwarsa, seharusnya dia di drop out (DO). Tapi, oleh kampusnya, sang mahasiswa itu diberi kesempatan ujian karena sudah menyelesaikan semua mata kuliah. Dia terlalu lama menulis tesis.
Isi tesisnya tidak karuan. Sangat di bawah standar. Ketika ujian, saya tanyakan kepadanya beberapa pertanyaan elementer. Ringan-ringan saja. Tapi, lagi-lagi jawaban tidak karuan. Terkesan, mahasiswa itu asal bicara aja. Walhasil, secara obyektif, seharusnya dia tidak lulus.
Jelang pengumuman hasil ujian, saya musyawarah dengan dosen penguji lainnya. Ketika saya sampaikan mahasiswa tersebut harus mengulang, alias tidak lulus, tapi dosen penguji lain keberatan.
“Tolong diluluskan, Pak'”
“Apa pertimbangan Bapak?”
“Saya lihat dia sudah berusaha keras. Memang kemampuan dia seperti itu.”
“Bagaimana caranya?”
“Ya bagaimana caranya, Pak. Secara akademik dia lemah. Tapi saya lihat dia mahasiswa yang baik.”
Saya terdiam sejenak.
“Bagaimana menilainya?”
“Bapak beri nilai minimal. Batas kelulusan paling rendah.”
“Oke. Tapi dia tetap harus revisi.” Jawab saya sambil menghela nafas
Penguji lain itu pun terlihat bahagia dengan perubahan sikap saya.
“Kalau jelas tidak mampu, kemudian kita luluskan, namanya lulus dengan predikat apa Pak?”
“Lulus dengan syafaat Pak.” Jawabnya enteng. Kami pun tertawa bersama.
Lulus dengan syafaat. Mungkin karena mahasiswa itu rajin baca shalawat
Semoga pembaca tulisan ini, baik yang tertawa ataupun yang tidak tertawa, lulus karena kemampuan, bukan karena syafaat dosen. (*)
(Cerita ini disadur dari buku ‘Guyon Maton’ karangan Abdul Mu’ti, cetakan II: Oktober 2022)









