Guyonan soal Keturunan Nabi Muhammad dan Yesus Bikin Pengajian Cair, Ini Ceritanya

Penulis: 
Ilustrasi [repro.dull]

JAKARTA, KYAIMENTERI.ID — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti kembali membagikan kisah jenaka yang mengandung kritik sosial.

Kali ini, Kyai Menteri Mu’ti – sapaan akrabnya menceritakan dialog antara seorang santri dengan ustaz dalam sebuah pengajian tentang orang-orang yang mengaku sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW.

Kisah itu bermula ketika seorang santri mengajukan pertanyaan kritis kepada ustaz mengenai banyaknya orang di masyarakat yang mengaku sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW.

“Ustaz, mengapa di kalangan masyarakat banyak yang mengaku keturunan Nabi Muhammad?” tanya sang santri.

Sang ustaz kemudian menjelaskan bahwa dalam Islam terdapat penjelasan mengenai kemuliaan ahl al-bait atau keluarga Nabi, termasuk keturunan Nabi Muhammad SAW pada umumnya.

Namun, pertanyaan berikutnya membuat sang ustaz agak terhenyak.

“Kalau begitu, mengapa dalam agama Kristen dan Katolik tidak ada orang yang mengaku keturunan Yesus?” tanya santri tersebut.

Mendengar pertanyaan itu, sang ustaz sempat kaget. Santri yang kritis itu rupanya tidak berhenti pada satu pertanyaan.

“Mau jawaban serius?” tanya ustaz.

“Ustaz lebih tahu mana yang terbaik,” jawab santri dengan nada mendesak.

Sang ustaz kemudian memilih memberikan jawaban dengan cara yang lebih santai.

“Saya jawab cara sejuk,” katanya.

“Maksudnya?” tanya santri penasaran.

“Serius, tapi juga joke. Guyon,” jawab ustaz.

“Monggo, Ustaz,” sahut santri.

Ustaz pun menjelaskan dengan nada bercanda bahwa alasan banyak umat Islam mengaku sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW karena Nabi Muhammad memang memiliki istri, anak, cucu, dan keturunan.

Sementara itu, ketika ditanya mengapa tidak ada umat Kristiani yang mengaku sebagai keturunan Yesus, sang ustaz menjawab dengan sederhana.

“Karena yang saya tahu, Yesus tidak punya istri dan anak,” kata sang ustaz.

Cerita tersebut menjadi guyonan yang mencairkan suasana pengajian. Kyai Menteri Mu’ti pun menutup kisahnya dengan pesan ringan bahwa akhir pekan dapat dinikmati dengan santai dan, insyaallah, menghadirkan kebahagiaan. (*)

 

(Cerita tersebut disadur dari buku Guyon Maton karya Abdul Mu’ti, cetakan II, Oktober 2022)

Bagikan Tulisan Ini