Abdul Mu’ti: Penguatan Ranting Jadi Kunci Masa Depan Muhammadiyah

Penulis: Fadel Prayoga | Editor: Eko Budi Utomo
Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu'ti menghadiri konsolidasi LPCRPM se-Jawa bagian barat di Jakarta, Minggu (2/8/2026). Pada kesempatan itu Abdul Mu'ti menekankan pentingnya penguatan ranting sebagai kunci masa depan Muhammadiyah

JAKARTA, KYAIMENTERI.ID – Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Mu’ti mengingatkan persyarikatan tidak boleh hanya dikenal lewat besarnya amal usaha, sementara aktivitas organisasi di tingkat ranting melemah.

Menurutnya, penguatan ranting menjadi kunci untuk mengembalikan Muhammadiyah sebagai gerakan berbasis komunitas sekaligus menjaga jati diri persyarikatan.

Menurutnya tantangan terbesar Muhammadiyah saat ini adalah memastikan seluruh struktur organisasi benar-benar aktif dan memberi manfaat bagi masyarakat.

“Yang ingin kita wujudkan adalah mengubah keadaan. Jangan sampai organisasi hanya sekadar memiliki nama, tetapi tidak memiliki isi,” kata Abdul Mu’ti

Dia mengingatkan jangan sampai organisasi hanya kelihatan hidup. Baru aktif menjelang muktamar, musyawarah wilayah, musyawarah daerah, musyawarah cabang, atau musyawarah ranting. Setelah itu, aktivitasnya kembali tidak terlihat.

“Ada yang hidup, tetapi ada juga yang tidak,” ujarnya saat menghadiri kegiatan konsolidasi LPCRPM se-Jawa bagian barat di Jakarta, Minggu (2/8/2026).

Ia menilai perubahan tersebut hanya dapat diwujudkan apabila seluruh elemen Muhammadiyah memiliki komitmen yang sama dalam membangun organisasi.

Semangat itu, menurutnya, terus tumbuh ketika melihat antusiasme kader yang aktif menggerakkan ranting.

“Menurut saya, ini menjadi komitmen yang harus kita bangun bersama. Setiap kali mendengar Mas Jamal berbicara, saya selalu bersemangat. Suaranya lantang dan tegas, seperti polisi yang sedang mengatur lalu lintas,” katanya.

Mas Jamal yang disebut Kiai Abdul Mu’ti ini adalah M. Jamaludin Ahmad yang merupakan Ketua Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid (LPCRPM) PP Muhammadiyah.

Jamaludin Ahmad ini memang acapkali menyuarakan konsep Bermuhammadiyah yang Menggembirakan. Konsep yang menekankan pentingnya mengurus organisasi dan berdakwah dengan rasa ikhlas, penuh syukur, serta tanpa beban.

Spesialis Kajian di Jam Menantang

Dalam suasana yang lebih santai, Abdul Mu’ti yang karib disapa Kyai Menteri itu mengaku sering mendapat jadwal menyampaikan ceramah pada waktu siang, waktu yang identik dengan rasa kantuk peserta.

Ia bahkan menyebut dirinya sebagai “spesialis” mengisi kajian pada jam-jam yang paling menantang.

“Teman-teman Muhammadiyah biasanya punya strategi. Kalau saya mendapat giliran berceramah pada siang hari, itu biasanya jam-jam yang berat karena banyak orang mengantuk. Jadi saya ini bisa dibilang spesialis mengisi ceramah pada waktu-waktu yang paling menantang,” tuturnya.

Menurut dia, kehadiran tokoh-tokoh penggerak di tingkat ranting mampu membangkitkan kembali semangat warga Muhammadiyah.

Ia menegaskan dirinya hanya menjalankan amanah sebagai pemimpin sesuai kemampuan yang dimiliki.

“Gairah kita tumbuh lagi untuk memperkuat ranting. Saya sendiri tidak perlu banyak mengajari karena merasa bukan pemimpin yang luar biasa. Saya hanya menjalankan amanah semampu saya,” ucapnya.

Selain itu, dirinya selalu berupaya hadir dalam kegiatan ranting selama tidak memiliki agenda di luar kota. Meskipun ini hanya program sederhana di tingkat ranting dan pesertanya sering kali orang-orang yang sama. Sebab, kehadiran seorang pemimpin mampu memberikan dorongan moral sehingga jumlah peserta kegiatan semakin bertambah.

“Alhamdulillah setiap kali saya datang ternyata ada pengaruhnya. Jumlah peserta menjadi lebih banyak,” katanya.

Ia menegaskan seorang pemimpin tidak dinilai dari kekuatan fisiknya, melainkan dari kemampuannya membangkitkan semangat orang lain.

Kehadiran pemimpin, menurutnya, merupakan energi yang dapat menggerakkan organisasi.

“Paling tidak, kehadiran kita dapat menyemangati yang lain, meskipun mereka datang dalam keadaan mengantuk. Sebab menurut saya, seorang pemimpin dibutuhkan bukan karena fisiknya kuat, melainkan karena kehadirannya mampu memberi semangat kepada orang lain,” tuturnya.

Sebagai contoh, Abdul Mu’ti mengingatkan perjuangan Jenderal Sudirman yang tetap memimpin perang meski dalam kondisi sakit. Baginya, kehadiran sang panglima menjadi sumber semangat bagi para pejuang.

“Dalam kondisi sakit dan harus ditandu ketika memimpin perjuangan, beliau tetap hadir. Justru kehadiran itulah yang menggerakkan semangat para pejuang,” ujarnya.

Sesekali Diisi Kegiatan yang Santai

Ia menambahkan, kegiatan di tingkat ranting harus menjadi prioritas utama Muhammadiyah. Frekuensi pertemuan yang lebih intens diyakini akan memperkuat kehidupan organisasi.

“Karena itu, kegiatan di tingkat ranting adalah yang paling penting. Pertemuan harus lebih sering diadakan. Saya sangat setuju dengan itu,” katanya.

Pertemuan organisasi tidak harus selalu berbentuk rapat formal. Aktivitas yang lebih santai seperti makan bersama atau kegiatan yang mempererat kebersamaan juga dinilai mampu memperkuat ikatan antaranggota.

“Rapat cukup dilakukan jika memang ada hal yang benar-benar penting. Biarlah rapat yang banyak itu menjadi urusan Pimpinan Pusat,” ujarnya.

Ia menjelaskan organisasi yang kuat dibangun melalui hubungan yang erat antaranggotanya. Ikatan tersebut lahir dari pertemuan yang rutin serta kebersamaan yang terus dipelihara.

Teorinya sederhana. Sebuah organisasi akan menjadi kuat apabila memiliki ikatan yang kuat di antara para anggotanya.

Ikatan itu tidak terbentuk begitu saja, tetapi dibangun melalui pertemuan yang rutin dan kebersamaan yang terus dipelihara.

Karena itulah, ketika dahulu ia berdiskusi di Pimpinan Pusat mengenai pembentukan lembaga ini, Ia berpandangan bahwa ke depan sebaiknya menjadi sebuah majelis, yaitu Majelis Pengembangan Cabang dan Ranting.

“Ini sebagai bagian dari upaya mengembalikan Muhammadiyah kepada jati dirinya,” ujarnya.

Membentuk Masyarakat Islam

Ia melihat adanya pergeseran orientasi gerakan Muhammadiyah dari yang semula berbasis komunitas menjadi lebih bertumpu pada amal usaha. Perubahan itu, menurutnya, perlu menjadi perhatian bersama.

“Saya melihat ada gejala di Muhammadiyah bahwa gerakannya mulai bergeser, dari gerakan berbasis komunitas menjadi gerakan yang bertumpu pada amal usaha,” katanya.

Abdul Mu’ti mengaku pernah menerima kritik mengenai semakin sulitnya mengumpulkan warga Muhammadiyah dalam kegiatan organisasi.

Kritik tersebut memiliki dasar karena banyak anggota lebih aktif di lingkungan amal usaha dibanding organisasi.

“Saya pernah mendapat kritik dari beberapa teman. Mereka mengatakan bahwa mengumpulkan warga Muhammadiyah sekarang semakin sulit,” ujarnya.

Ia membandingkan semangat anggota ketika mengikuti rapat di amal usaha dengan kegiatan di tingkat ranting. Menurutnya, perbedaan motivasi itu menjadi tantangan yang harus diatasi.

“Kalau di amal usaha, apalagi yang besar, orang bisa rapat sampai malam dengan penuh semangat karena ada harapan dan target yang ingin dicapai. Sebaliknya, ketika rapat di tingkat ranting, sering muncul pertanyaan, ‘Apa yang bisa diharapkan dari sini?'” katanya.

Tak hanya itu, kata dia, tujuan Muhammadiyah bukan membangun negara Islam, melainkan membentuk masyarakat Islam yang kuat. Sebab, kualitas suatu negara sangat ditentukan oleh kualitas masyarakatnya.

“Karena itu, ketika Muhammadiyah berbicara mengenai tujuannya, yang dibangun bukanlah negara Islam, melainkan masyarakat Islam. Sebab hakikat sebuah negara terletak pada kualitas masyarakatnya, bukan semata-mata pada sistem politiknya,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya membangun sinergi antara amal usaha dengan pembinaan masyarakat di seluruh tingkatan organisasi. Hubungan keduanya harus saling menguatkan agar tujuan Muhammadiyah dapat tercapai.

Bagikan Tulisan Ini