Anak-anak Banyumas Kembangkan Minat dan Bakat Lewat Sepak Bola

Penulis: Kusworo | Editor: Syaifudin
Anak-anak di Ajibarang Kabupaten Banyumas mengembangkan minat dan bakat mereka melalui Sekolah Sepak Bola (SSB). (foto: Facebook SSB Indonesia Muda Ajibarang)

BANYUMAS, KYAIMENTERI.ID – Geliat pembinaan sepak bola usia dini tak hanya tumbuh di kawasan perkotaan.

Di wilayah Banyumas Barat, Jawa Tengah, anak-anak mengembangkan minat sekaligus bakat melalui olahraga sepak bola di Sekolah Sepak Bola (SSB) Indonesia Muda Ajibarang yang telah berdiri sejak 2019.

Keberadaan SSB Indonesia Muda Ajibarang menjadi wadah bagi anak-anak untuk menyalurkan minat sekaligus mengembangkan bakat mereka di bidang olahraga sepak bola.

Tidak hanya mengandalkan kemampuan anak, keberlangsungan pembinaan juga mendapat dukungan dari para orang tua.

Pelatih Indonesia Muda Ajibarang, Bima Ramadhani mengatakan, para peserta latihan berasal dari berbagai wilayah di Kabupaten Banyumas, terutama kawasan Banyumas Barat.

Mayoritas peserta merupakan anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah pertama (SMP).

“Usianya rata-rata 9 sampai 13 tahun, dari SD sampai SMP. Tidak ada batasan khusus untuk bisa bergabung,” ujar Bima saat ditemui, Minggu (13/9/2026).

Saat ini, Indonesia Muda Ajibarang memiliki sekitar 80 peserta. Latihan dilaksanakan rutin tiga kali dalam sepekan, yakni Jumat, Sabtu, dan Minggu.

Setiap sesi latihan berlangsung sekitar dua hingga tiga jam.

Pembinaan yang dilakukan tidak hanya berorientasi pada latihan teknik dasar. Sejumlah pemain binaan Indonesia Muda Ajibarang telah diberi kesempatan mengikuti berbagai kompetisi dan mencatatkan prestasi.

Salah satunya ketika para pemain mengikuti ajang Bela Suratin Jawa Tengah bersama PSS Cilacap. Dalam kompetisi tersebut, tim berhasil keluar sebagai juara pertama.

Namun, membina pemain usia dini bukan pekerjaan yang selalu mudah. Bima menyebut salah satu tantangan yang kerap dihadapi adalah ketika pemain baru bergabung saat materi latihan sudah berjalan.

“Kesulitannya ketika ada anak baru. Misalnya materi latihan sudah masuk tahap kelima, kemudian ada anak baru yang belum mengikuti materi sebelumnya. Di situ yang agak sulit,” ujarnya.

Konsistensi kehadiran peserta juga menjadi tantangan tersendiri.

Kesibukan sekolah, kegiatan keluarga, maupun aktivitas lainnya terkadang membuat jumlah pemain yang mengikuti latihan mengalami pasang surut.

“Kalau pasang surut dalam latihan pasti ada. Banyak kegiatan di sekolah atau acara lainnya, akhirnya yang datang latihan hanya beberapa anak,” ujar Bima.

Dari sekitar 80 peserta yang terdaftar, Bima memperkirakan sekitar 60 hingga 70 persen mengikuti latihan karena memiliki ketertarikan terhadap sepak bola yang muncul dari dalam diri mereka sendiri.

Sementara sebagian lainnya mulai berlatih karena dorongan dari orang tua.

Meski demikian, pembinaan di Indonesia Muda Ajibarang tidak semata-mata diarahkan untuk mencetak pemain yang kelak menjadi pesepak bola profesional atau memperkuat tim nasional.

Bagi Bima, sepak bola memiliki fungsi yang lebih luas, yakni menjadi sarana membangun karakter, kedisiplinan, kerja sama, sekaligus membentuk anak agar memiliki kegiatan positif dan dapat memberikan manfaat bagi lingkungan.

“Harapan terbesar kami, anak-anak bisa terus berkembang dan bermanfaat bagi orang lain. Kalaupun nantinya tidak menjadi pemain sepak bola, setidaknya mereka bisa mendapatkan manfaat dari sepak bola,” ungkapnya.

Dukungan terhadap pembinaan sepak bola usia dini juga datang dari orang tua. Salah satunya Budi Swanto, warga Ajibarang Kulon, Kecamatan Ajibarang.

Budi memasukkan putranya yang masih berusia tujuh tahun ke Indonesia Muda Ajibarang setelah melihat ketertarikan sang anak terhadap sepak bola sejak usia dini.

“Kalau melihat bola dia sangat senang. Sebagai orang tua, kami akhirnya menyalurkan minat dan bakatnya. Kebetulan di Ajibarang ada Indonesia Muda yang lokasinya dekat,” kata Budi.

Menurutnya, kegiatan olahraga juga menjadi salah satu cara untuk mengarahkan anak agar memiliki aktivitas positif sekaligus mengurangi waktu yang dihabiskan untuk bermain gawai.

“Sejak TK sudah senang main bola. Sekarang di Indonesia Muda termasuk masih paling muda karena usianya tujuh tahun. Kami ingin melatih mental sekaligus mengenalkan sepak bola sejak dini,” jelasnya.

Budi berharap pembinaan yang dilakukan Indonesia Muda Ajibarang dapat membantu perkembangan anaknya, baik dari sisi kemampuan sepak bola maupun mental.

Ia juga berharap sang anak kelak mampu menorehkan prestasi.

“Mudah-mudahan ke depannya bisa berprestasi dan ikut mendukung kemajuan sepak bola Indonesia. Apalagi sekarang pendidikan sepak bola usia dini sedang banyak digalakkan di seluruh Indonesia,” katanya.

Mimpi menjadi pesepak bola profesional juga tumbuh di antara anak-anak yang mengikuti latihan.

Salah seorang peserta, Devan, mengaku mulai menyukai sepak bola setelah sering menyaksikan pertandingan melalui televisi. Kecintaannya terhadap olahraga tersebut membuatnya tertarik mengikuti latihan secara rutin.

Sejumlah pemain dunia menjadi idolanya, di antaranya Lamine Yamal dan Cristiano Ronaldo.

Sementara untuk pemain Indonesia, Devan mengidolakan Ole Romeny. Devan pun bercita-cita menjadi pesepak bola terkenal. (*)

Bagikan Tulisan Ini