BOYOLALI, KYAIMENTERI.ID – Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Boyolali menerima wakaf berupa tanah dan bangunan seluas sekitar 800 meter persegi di Tegal Rejo, Ngesrep, Kecamatan Ngemplak, Boyolali. Penyerahan dilakukan pada Minggu (10/8/2026).
Wakaf tersebut diserahkan keluarga besar Dibyo Cahyono melalui dua putranya, Dono dan Agung.
Keduanya mewakili keluarga dalam penyerahan aset wakaf kepada PDA Aisyiyah Boyolali.
Wasiat Keluarga
Keluarga besar Dibyo Cahyono menyampaikan, almarhum pernah berpesan agar tanah dan bangunan tersebut diwakafkan jika tidak lagi ditempati anggota keluarga.
Pesan itu kemudian menjadi dasar keluarga untuk sepakat menyerahkan aset tersebut bagi kepentingan persyarikatan. Mereka berharap tanah dan bangunan itu dapat memberi manfaat lebih luas bagi Muhammadiyah, Aisyiyah, dan masyarakat sekitar.
Bangunan yang berdiri di atas tanah tersebut masih dalam kondisi sangat baik. Bahkan, kompleks itu terkesan cukup mewah. Di dalamnya terdapat tiga bangunan, yakni rumah utama, pendopo, dan ruang tamu.
Kondisi bangunan tetap terawat karena keluarga melakukan rehabilitasi sekitar dua tahun lalu.
PDA Sampaikan Terima Kasih
Ketua PDA Boyolali, Sri Hidayati, menyampaikan terima kasih kepada keluarga besar Dibyo Cahyono yang telah mewakafkan aset tersebut untuk kepentingan persyarikatan.
“Kami sangat berterima kasih kepada keluarga besar Pak Dibyo Cahyono, yang diwakili Pak Dono dan Pak Agung. Mereka telah bersedia mewakafkan harta keluarga untuk kepentingan persyarikatan,” ujar Sri.
Sri berharap wakaf tersebut menjadi amal jariyah bagi almarhum Dibyo dan keluarga besar. Ia juga mendoakan agar manfaat wakaf terus mengalir selama tanah dan bangunan itu digunakan untuk kegiatan persyarikatan dan pelayanan masyarakat.
“Semoga wakaf ini menjadi amal jariyah bagi almarhum Pak Dibyo dan keluarga besar. Insyaallah, manfaatnya akan terus mengalir melalui kegiatan persyarikatan dan pelayanan masyarakat,” katanya.
Untuk Pengaderan dan Pelatihan
Sri menjelaskan, PDA Aisyiyah Boyolali berencana menggunakan bangunan tersebut untuk kegiatan pengaderan dan pelatihan Muhammadiyah.
Selain itu, Aisyiyah juga ingin membuka tempat tersebut untuk kegiatan warga sekitar.
Menurutnya, Muhammadiyah dan Aisyiyah membutuhkan tempat yang representatif untuk membina kader.
Karena itu, aset wakaf ini dapat menjadi pusat kegiatan yang produktif dan bermanfaat.
“Insyaallah, bangunan ini akan kami manfaatkan untuk pengaderan, pelatihan, dan kegiatan sosial yang bermanfaat bagi persyarikatan maupun masyarakat,” ujar Sri.
Wakaf ini juga sejalan dengan paradigma wakaf Muhammadiyah. Dalam pandangan Muhammadiyah, wakaf tidak hanya berhenti sebagai penyerahan tanah atau bangunan.
Lebih dari itu, Persyarikatan perlu mengelola aset wakaf agar memberikan manfaat yang luas dan berkelanjutan.
Karena itu, tanah dan bangunan wakaf dapat menjadi sarana dakwah, pendidikan, kaderisasi, pelatihan, dan pemberdayaan masyarakat. Dengan cara ini, wakaf tidak hanya menjaga aset, tetapi juga menghidupkan gerakan.
Sri berharap PDA Aisyiyah Boyolali dapat mengelola amanah tersebut dengan baik.Menurutnya, Aisyiyah dapat segera menyusun program karena bangunan itu sudah siap pakai.
Dengan adanya wakaf ini, PDA Aisyiyah Boyolali ingin memperkuat kegiatan persyarikatan di Boyolali.
Selain untuk pengaderan, tempat tersebut akan menjadi ruang pertemuan, pembelajaran, dan pelayanan sosial bagi masyarakat sekitar.









