Abdul Mu’ti Cerita Pengalaman Unik di New Zealand, Gelar Drs Dikira Doktor

Penulis: 

JAKARTA, KYAIMENTERI.ID – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) sekaligus Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, membagikan pengalaman menarik saat mengikuti program Young Muslim Leader Exchange di New Zealand pada 2007.

Kala itu, Abdul Mu’ti baru saja menyelesaikan sebuah ceramah di Victoria University. Bulannnya saya lupa. Saat itu saya sedang menyelesaikan program doktor di UIN. Oleh sekretaris, saya dibuatkan kartu nama dengan nama lengkap Drs. Abdul Mu’ti, M.Ed.

Usai menyampaikan ceramah, Abdul Mu’ti berbaur dan bertukar kartu nama dengan sejumlah peserta yang sebagian merupakan dosen senior. Namun, sebuah pertanyaan tak terduga muncul setelah salah seorang dosen membaca kartu nama tersebut.

“Gelar Anda di sini tertulis ‘Drs’. Berapa gelar doktor yang Anda punya?” tanya dosen itu dengan penuh rasa ingin tahu.

Pertanyaan tersebut membuat Abdul Mu’ti terkejut. Dengan sedikit tersipu, ia menjelaskan bahwa saat itu dirinya masih menempuh program doktor dan belum menyelesaikannya.

Namun, dosen tersebut tetap heran. Baginya, singkatan “Drs” dipahami sebagai kependekan dari doctor.

Abdul Mu’ti kemudian menjelaskan bahwa di Indonesia, “Drs” merupakan singkatan dari doktorandus, gelar sarjana warisan sistem pendidikan Belanda. Drs itu setingkat dengan BA Honors di New Zealand. Penjelasan itu pun disambut tawa bersama.

Lalu, Abdul Mu’ti melanjutnya sambil melontarkan candaan. Ia mengatakan bahwa di Indonesia, “Drs” juga bisa saja diartikan sebagai doktor.

“Maksud Anda?” tanya dosen tersebut.

Abdul Mu’ti kemudian menjelaskan bahwa ada orang-orang yang memiliki banyak gelar doktor, terutama melalui penganugerahan gelar doktor kehormatan atau honoris causa.

Menurutnya, tidak sedikit tokoh yang memperoleh lebih dari satu gelar doktor kehormatan, bahkan ada yang mencapai tiga gelar.

Mendengar hal itu, sang dosen senior itu mengaku kagum. Di negaranya, memperoleh satu gelar doktor saja membutuhkan perjuangan yang tidak mudah.

Kemudian Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa sebagian penerima gelar tersebut memang memiliki prestasi dan kontribusi keilmuan yang luar biasa. Namun, ada pula yang memperolehnya ketika sedang menduduki jabatan publik tertentu sehingga berbagai perguruan tinggi berlomba memberikan penghargaan serupa.

Ketika ditanya alasan di balik fenomena tersebut, Abdul Mu’ti menjawab dengan nada ringan.

“Itulah hebatnya orang Indonesia, bangsa yang sangat dermawan. Kalau Anda ke Indonesia, bisa saya usulkan mendapatkan gelar doktor honoris causa. Gelar Anda nanti diubah menjadi ‘Drs’ seperti saya,” ujarnya berseloroh.

Candaan itu kembali mengundang tawa di antara mereka. Bagi Abdul Mu’ti, pengalaman tersebut menjadi kenangan yang lucu sekaligus memperlihatkan bagaimana perbedaan tradisi akademik antarnegara dapat menimbulkan salah pengertian yang menghibur.

“Memang lucu. Doktor kok banyak sekali,” tutupnya.


(Disadur dari buku ‘Guyon Maton’ karangan Abdul Mu’ti, cetakan II: Oktober 2022)

Bagikan Tulisan Ini