Pelajar Brebes Selatan Siapkan Legenda Nyi Rantansari untuk Panggung TMII

Penulis: Kusworo | Editor: Eko Budi Utomo
Para pelajar Brebes Selatan mematangkan latihan pementasan “Sentra Tasik” di Sanggar Suwung Bumiayu. Mereka menyiapkan lakon cerita rakyat Nyi Rantansari untuk tampil di Anjungan Jawa Tengah, TMII, Jakarta.

BREBES, KYAIMENTERI.ID – Sejumlah pelajar Brebes Selatan tengah mempersiapkan pementasan legenda Nyi Rantansari untuk ditampilkan di Anjungan Jawa Tengah, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, 4 Oktober 2026.

Sanggar Suwung Bumiayu menggandeng sejumlah sanggar seni untuk mendukung pertunjukan. Di antaranya Sanggar Andaka dari SMA Negeri 1 Paguyangan, Sanggar Rapela, Sanggar Afela, Sanggar Audia Ayudia, Sanggar Suaragini, dan Sanggar Sembung Senggan.

Seniman sekaligus guru SMA Negeri 1 Paguyangan, Agep Haris Zulfikar, yang menjadi sutradara “Sendra Tasik”, mengatakan pertunjukan dirancang dengan menggabungkan teater, tari, musik tradisional, musik modern, serta visual digital.

“Konsepnya tradisi dan modern. Ada teater, tari, pengiring musik tradisi, pengrawit, kemudian ada juga musisi modern atau band dari SMA Paguyangan,” kata Agep, Selasa (29/9/2026).

Legenda Nyi Rantansari merupakan cerita rakyat yang dipercaya masyarakat sebagai sosok penjaga wilayah Brebes Selatan.

Pementaan ini dikemas dalam pertunjukan drama, tari, dan musik bertajuk “Sendra Tasik”. Pementasan memadukan tradisi dengan unsur pertunjukan modern.

Sejumlah pelajar dari SMA Negeri 1 Paguyangan, SMA Negeri 1 Sirampog, SMK Negeri Tonjong, SMK Wicaksana, SMP Islam Ta’alumul Huda, dan SMP Negeri 1 Bantarkawung juga terlibat dalam pementasan tersebut.

Cerita utama berangkat dari sosok Nyi Rantansari. Dalam kisah yang berkembang di masyarakat, Nyi Rantansari dikenal sebagai penjaga wilayah Brebes Selatan.

Alurnya membawa penonton dari cerita masa lalu menuju persoalan lingkungan pada masa kini. Kisah bermula ketika Amangkurat bersama pasukannya singgah di sebuah wilayah yang memiliki pemandangan alam indah.

Amangkurat kemudian berniat membuka lahan untuk kepentingan ekspansi wilayah Mataram.

Keinginan tersebut mendapat penolakan dari Nyi Rantansari yang dalam pertunjukan digambarkan berupaya mempertahankan hutan dan lingkungan dari kerusakan.

Cerita kemudian bergerak ke masa kini. Salah satu bagian mengangkat kepercayaan masyarakat mengenai larangan menabuh gamelan dan menggelar pertunjukan wayang di wilayah Bumiayu karena diyakini dapat mendatangkan musibah.

Bagikan Tulisan Ini