Namun, “Sendra Tasik” tidak menempatkan kesenian sebagai sumber musibah. Pesan yang dibangun justru mengarah pada hubungan manusia dengan alam.
“Jadi bukan karena wayang atau gamelannya yang mendatangkan musibah, tetapi lebih kepada bagaimana manusia memperlakukan alam,” ujar Agep.
Pertunjukan akan diperkuat pengrawit dari wilayah Ketanggungan. Sementara musik modern dimainkan band dari SMA Negeri 1 Paguyangan.
Unsur teknologi juga masuk dalam pementasan. Tim kreatif menyiapkan visual digital yang akan ditampilkan melalui videotron di Anjungan Jawa Tengah, TMII.
Sekitar 50 orang terlibat dalam pementasan. Mereka terdiri atas penari, pemain teater, pengrawit, musisi, dan kru produksi. Sekitar 35 di antaranya perempuan dan 15 laki-laki.
Mayoritas peserta berasal dari SMA Negeri 1 Paguyangan. Pelajar dari SMA Negeri 1 Sirampog dan SMK Negeri Tonjong turut terlibat dalam pementasan.
Panggung TMII menjadi kesempatan bagi pelajar Brebes Selatan untuk memperkenalkan cerita rakyat dan seni tradisi daerah kepada masyarakat yang lebih luas.
Melalui “Sendra Tasik”, legenda Nyi Rantansari juga dikenalkan kembali kepada generasi muda. Pesan tentang menjaga hutan dan kelestarian lingkungan menjadi salah satu gagasan utama yang dibawa dalam pertunjukan tersebut.









