PALEMBANG, KYAIMENTERI.ID — Jongot bagi masyarakat Penukal, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Palembang bukan sekadar kebun penghasil buah. Kawasan yang dikelola secara turun-temurun itu menjadi bagian dari warisan keluarga sekaligus menyimpan pengetahuan masyarakat dalam menjaga hubungan dengan lingkungan.
Namun, keberadaan jongot kini menghadapi ancaman akibat perubahan penggunaan lahan.
Persoalan tersebut mengemuka dalam pemutaran film dokumenter Jongot: An Ancestral Legacy for All Living Beings di Perpustakaan UIN Raden Fatah Palembang, Kampus B Jakabaring, Senin (28/9/2026).
Pemutaran film karya Nopri Ismi tersebut dirangkaikan dengan pameran foto dan diskusi yang melibatkan mahasiswa, pegiat lingkungan, serta sejumlah narasumber.
Film dokumenter itu merekam hubungan masyarakat Suku Musi di Penukal dengan jongot yang dikelola secara turun-temurun. Nopri mengangkat kekhawatiran terhadap semakin banyaknya jongot yang beralih fungsi.
“Hilangnya jongot bukan hanya mengurangi kawasan hijau, tetapi juga berpotensi menghilangkan praktik dan pengetahuan masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi,” ujar Nopri dalam keterangannya, Selasa (29/9/2026).
Karena itu, ia mendorong adanya pengakuan terhadap jongot sebagai bagian dari kekayaan budaya masyarakat Penukal.









