AI Masuk Ruang Pendidikan dan Gereja, Nilai Kemanusiaan Diminta Tetap Jadi Kompas

Penulis: Izzul Khaq | Editor: Budi Supriyantoro
Narasumber dosen UGM, Leonard Chrysostomos Epafras sedang memberi pemaparan tentang AI, Pendidikan, dan Gereja: Peluang, Tantangan, dan Panggilan Iman [youtube Jogja Belajar]

YOGYAKARTA, KYAIMENTERI.ID — Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin memengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan dan kehidupan keagamaan.

Fenomena tersebut menjadi topik utama dalam program siniar Jogja Belajar (JBR) Ngepodcast bertajuk “AI, Pendidikan, dan Gereja: Peluang, Tantangan, dan Panggilan Iman” yang disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube jogjabelajar pada Senin (21/9/2026).

Diskusi yang dipandu host Septandho Hishaf itu menghadirkan peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Leonard Chrysostomos Epafras, S.Si., M.Th.

Leonard membahas perkembangan AI dari perspektif akademis dan teologis, khususnya dampaknya terhadap ruang pendidikan serta kehidupan bergereja.

Menurut Leonard, kehadiran AI membawa perubahan yang tidak hanya berkaitan dengan kemampuan teknologi, tetapi juga menyentuh persoalan etika dan nilai kemanusiaan.

“AI menghadirkan peluang sekaligus tantangan yang menuntut kesiapan kita dalam meresponsnya secara bijak, tidak hanya di ranah pendidikan tetapi juga dalam panggilan iman di tengah masyarakat,” ujar Leonard dalam diskusi tersebut.

Ia menilai, perkembangan teknologi tidak semestinya disikapi secara apriori atau dengan penolakan terhadap teknologi. Sebaliknya, masyarakat perlu memahami sekaligus mengawal penggunaannya agar tetap sejalan dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Leonard juga menekankan pentingnya peran institusi pendidikan dan gereja dalam memastikan pemanfaatan teknologi tetap berorientasi pada penghormatan terhadap harkat dan martabat manusia.

Menurut dia, teknologi digital di ruang belajar maupun komunitas iman seharusnya ditempatkan sebagai instrumen pendukung yang dapat memperkaya kualitas hidup dan hubungan sosial.

“Persoalan utamanya bukan pada kecanggihan alat itu sendiri, melainkan bagaimana kita menempatkan nilai-nilai kemanusiaan dan etika moral sebagai kompas utama agar teknologi berfungsi sebagai pemberdaya, bukan justru mendegradasi esensi hubungan antarmanusia,” tegasnya.

Diskusi JBR Ngepodcast tersebut juga mendorong pendidik, pemuka agama, dan masyarakat untuk melihat perkembangan AI secara lebih terbuka sekaligus kritis.

Pertemuan antara teknologi digital, pendidikan, dan iman Kristen dinilai perlu direspons melalui langkah-langkah strategis agar perkembangan teknologi tetap berjalan seiring dengan penguatan nilai etika dan kemanusiaan.

Tayangan ulang diskusi “AI, Pendidikan, dan Gereja: Peluang, Tantangan, dan Panggilan Iman” dapat disaksikan melalui kanal resmi YouTube Jogja Belajar. (*)

Bagikan Tulisan Ini