PKKMB STAI Muhammadiyah Blora Bekali 127 Mahasiswa Baru dengan Karakter dan Kemandirian

Penulis: Gunawan Trihantoro | Editor: Eko Budi Utomo
Ketua Umum DPD IMM Jawa Tengah periode 2024–2026, Nia Nur Pratiwi, menyampaikan materi dalam PKKMB STAI Muhammadiyah Blora, Sabtu (19/9/2026). Sebanyak 127 mahasiswa baru mengikuti kegiatan yang membekali mereka dengan karakter, kemandirian, dan tanggung jawab akademik.

BLORA, KYAIMENTERI.ID – Memasuki dunia perguruan tinggi, 127 mahasiswa baru STAI Muhammadiyah Blora didorong membangun kemandirian belajar dan karakter yang kuat. Bekal tersebut disampaikan dalam Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) di Kampus Terpadu STAI Muhammadiyah Blora, Sabtu (19/9/2026).

PKKMB menjadi tahap awal mahasiswa mengenal budaya akademik sekaligus menyiapkan diri menghadapi pola belajar di perguruan tinggi. Mahasiswa tidak hanya dituntut memahami lingkungan kampus, tetapi juga aktif mencari pengetahuan, berpikir kritis, dan bertanggung jawab.

Ketua Umum DPD Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Jawa Tengah periode 2024–2026, IMMawati Nia Nur Pratiwi, menekankan pentingnya kemandirian dalam proses pendidikan.

“Mahasiswa tidak cukup hanya menunggu materi dari dosen. Mereka harus aktif mencari informasi dan membangun kebiasaan belajar mandiri,” ujarnya.

Kemandirian tersebut perlu diikuti sikap kritis. Mahasiswa didorong berani bertanya, berdiskusi, menganalisis persoalan, dan menyampaikan pendapat. Kemampuan itu menjadi bagian dari proses membangun budaya akademik yang dinamis.

Selain kemampuan akademik, Nia menyoroti pentingnya tanggung jawab. Kehadiran, penyelesaian tugas, kepatuhan terhadap aturan, dan integritas akademik menjadi bagian dari pembentukan karakter mahasiswa.

Karakter juga tercermin dalam kehidupan sosial. Mahasiswa perlu mengembangkan empati, toleransi, serta kepedulian terhadap lingkungan. Kampus menjadi ruang untuk belajar menghargai perbedaan dan berinteraksi dengan beragam latar belakang.

Nia turut mengenalkan konsep growth mindset. Yakni, cara pandang bahwa kemampuan dapat terus dikembangkan melalui belajar, pengalaman, dan evaluasi diri. Kegagalan tidak semestinya menjadi penghalang, melainkan bahan refleksi untuk memperbaiki langkah.

Perhatian juga diberikan pada kesehatan mental mahasiswa. Mereka diingatkan mengenali batas kemampuan diri dan membangun kebiasaan positif dalam menghadapi tekanan akademik.

Bagikan Tulisan Ini