AUSTRALIA, KYAIMENTERI.ID — Fais Nurul Hadi asal Lampung dan Imroatul Hasanah asal Kediri, menyelesaikan doktor bidang teknologi pendidikan di Charles Darwin University (CDU), Australia, melalui upacara wisuda yang diselenggarakan Rabu (16/9/2026).
Menurut Fais, penggunaan teknologi pendidikan tidak hanya bergantung pada kecanggihan fitur dan kemudahan pengoperasian. Keberhasilannya juga ditentukan oleh keterlibatan komunitas sosial di sekitar sekolah.
“Penerapan teknologi tidak cukup hanya dengan menyediakan perangkat serta melatih siswa dan guru. Orang tua, masyarakat, dan pemangku kebijakan dari tingkat lokal hingga nasional juga perlu dilibatkan,” kata Fais.
Fais dan Imroatul merupakan penerima Beasiswa Program 5.000 Doktor Kementerian Agama Republik Indonesia dan menyelesaikan penelitian doktoral di bawah bimbingan Dr. Jon Mason dan Dr. Betty Noad.
Fais menulis disertasi berjudul Technology Acceptance for Mobile Learning in Rural Schools of Lampung, Indonesia.
Penelitian tersebut berangkat dari kegelisahan pribadinya terhadap berbagai proyek penerapan teknologi di sekolah yang tidak berlanjut setelah program berakhir.
Ia mencontohkan program seperti one iPad, one student yang sering berfokus pada penyediaan perangkat dan pelatihan teknis, tetapi belum tentu digunakan secara berkelanjutan.
Menurut Fais, penggunaan teknologi pendidikan tidak hanya bergantung pada kecanggihan fitur dan kemudahan pengoperasian.
Keberhasilannya juga ditentukan oleh keterlibatan komunitas sosial di sekitar sekolah.
Ia menambahkan, setiap inovasi teknologi perlu mempertimbangkan kondisi sosial dan budaya masyarakat serta kemauan politik para pemangku kepentingan.
Tanpa dukungan tersebut, program yang dirancang dengan baik sekalipun berisiko berhenti ketika bantuan atau proyek berakhir.
Sementara itu, Imroatul Hasanah menulis disertasi berjudul Developing “GoInggris”: A Language Learning App to Support Indonesian Secondary Students in Learning English.
Melalui penelitiannya, Imroatul mengembangkan aplikasi GoInggris untuk membantu pelajar sekolah menengah di Indonesia mempelajari bahasa Inggris.
Aplikasi tersebut memungkinkan siswa belajar tanpa dibatasi tempat dan waktu.
Namun menurut Imroatul, kemudahan akses bukan satu-satunya unsur penting dalam pembelajaran bahasa melalui aplikasi.
Materi pembelajaran juga harus dekat dengan budaya dan pengalaman sehari-hari siswa.
“Aplikasi memang memudahkan siswa belajar bahasa Inggris di mana pun dan kapan pun. Namun, bagi siswa Indonesia yang mempelajari bahasa Inggris sebagai bahasa asing, materi pembelajaran perlu mempertimbangkan konteks budaya yang telah mereka kenal,” ujar Imroatul.
Pendekatan tersebut membuat siswa tidak hanya memahami bahasa secara teknis, tetapi juga dapat menghubungkan materi dengan lingkungan sosial dan budaya mereka.
Dr. Jon Mason menyampaikan kebanggaannya atas pencapaian kedua mahasiswa bimbingannya.
Ia berharap penelitian tersebut dapat memberikan kontribusi bagi kemajuan pendidikan di Indonesia.
“Semoga hasil penelitian mereka tidak hanya berkontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga dipertimbangkan sebagai dasar dalam merumuskan kebijakan pendidikan di Indonesia,” ujar Jon.
Keberhasilan Fais dan Imroatul menambah kontribusi penerima Beasiswa Program 5.000 Doktor Kementerian Agama bagi pengembangan pendidikan Indonesia. (*)









