MAMUJU, KYAIMENTERI.ID – Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar), Muhammad Nehru Sagena mengatakan, Program Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) merupakan salah satu terobosan untuk menangani anak tidak sekolah (ATS) yang menjadi perhatian Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
“Program ini sudah kami jalankan beberapa bulan lalu. Alhamdulillah, sudah banyak anak putus sekolah kembali bersekolah. Target kami sekitar 550 anak dapat kembali mengenyam pendidikan tahun ini,” kata Nehru saat dihubungi kyaimenteri.id, Minggu (13/9/2026).
Nehru menjelaskan, program ini akan terus dikembangkan hingga dapat menyisir sekitar 1.000 anak untuk dikembalikan ke sekolah.
Untuk mendukung program PJJ, Nehru menyebut Dikbud Sulbar berkolaborasi dengan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) melakukan pengajaran tersebar di sejumlah sekolah.
“Kolaborasi itu menunjukkan bahwa persoalan ATS membutuhkan pendekatan lintas pihak,” ujarnya.
Untuk memperlancar program tersebut, Pemprov Sulbar juga menyiapkan sejumlah bantuan, termasuk pembiayaan pendidikan dan perlengkapan sekolah.
Upaya ini diharapkan meringankan beban ekonomi keluarga sekaligus mencegah anak kembali bekerja di usia dini.
“Selama ini kondisi keterbatasan ekonomi keluarga, masalah sosial menjadi faktor utama memaksa anak putus atau tidak sekolah. Kita biaya dan fasilitas agar anak tidak lagi menjadi tenaga kerja,” jelasnya.
Gubernur Sulbar, Suhardi Duka mengatakan, Pemprov Sulbar hadir memberi dukungan berupa seragam, perlengkapan, hingga beasiswa agar anak-anak bisa melanjutkan pendidikan tanpa hambatan.
“Ini adalah awal yang berarti, karena setiap anak berhak mendapatkan kesempatan untuk belajar dan bermimpi,” ujarnya.
Pengelola PJJ UPTD SMAN 1 Mamuju, Hj Halima mengungkapkan, pihaknya dibantu sejumlah sekolah sebagai mitra di Polewali, Majene, dan Tikke Raya, menjaring calon peserta PJJ.
“Kami berharap kuota yang diberikan Kementerian bisa terpenuhi, dan masyarakat membantu menyebarluaskan informasi PJJ ini,” kata dia.
Calon peserta dapat mendaftar melalui tautan online, sementara tim PJJ aktif melakukan jemput bola dan asesmen langsung di komunitas desa.
Salah seorang anak yang pernah putus sekolah, Rio, remaja asal Rantebulahan, Kabupaten Mamasa, sebelumnya masuk kategori ATS.
Dia berhasil bersekolah kembali di SMK Rantebulahan Timur dan kini ikut menjadi relawan.
“Saya senang dan berterima kasih bisa kembali bersekolah. Malah saya ajak teman-teman agar mau bersekolah lagi. Gratis tanpa biaya,” ujarnya.
Data laporan masyarakat melalui MASIGA Disdikbud di lima kabupaten hingga 2 September 2026 mencatat 499 ATS.
Mereka terdiri dari 301 laki-laki dan 198 perempuan dengan rata-rata usia sekitar 17 tahun.
Akademisi Institut Hasan Sulur (IHS) Sulbar, Adi Arwan Alimin mengungkap, 35.916 anak berada di luar sistem pendidikan.
Mereka terdiri atas 18.120 anak belum pernah sekolah, 8.295 anak putus sekolah, dan 9.501 anak lulus, tetapi tidak melanjutkan pendidikan di Sulbar.
“Faktor ekonomi menjadi penyebab dominan. Banyak anak akhirnya bekerja membantu orang tua. Selain rendahnya literasi pendidikan, sekolah masih dianggap cukup sampai anak bisa membaca dan berhitung,” ungkapnya. (*)









